wayjeparanegriku

Just another WordPress.com site

bahasa indonesia

BAB I
PENGANTAR

A. DESCRIPSI

Materi Pokok Kuliah Bahasa Indonesia menekankan mahasiswa untuk menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar, melalui kegiatan menyimak, membaca, berbicara, menulis keterampilan akademmik. Materi berbicara meliputi: presentasi, seminar, berpidato, mambaca artikel ilmiah dan mengakses internet. Adapun materi menulis seperti: menulis makalah, menulis rangkuman, menulis resensi buku.

B. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Menjadi ilmuan yang profesional yang memiliki sikap bahasa yang positif terhadap bahasa Indonesia. Serta diwujudkan dalam: kesetiaan bahasa, kebanggaan bahasa, dan kesadaran akkan adanya norma bahasa.
2. Tujuan Khusus
Agar mahasiswa terampil menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar.

C. MATERI
o Materi kuliah
o Perkembangan Bahasa Indonesia
o Diksi atau pilihan kata
o Tata kalimat
o Paragrap atau alinea
o Penalaran deduktif dan induktif serta salah nalar
o Tata ejaan
o Presentasi, pidato, seminar, ringkasan dan resensi
o Teknik penulisan karya ilmiah

D. METODE
o Proses pembelajaran secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi, mandiri, kreatif, memberi peluang prakarsa.
o Bentuk aktivitas: kuliah tatap muka, ceramah, dialog, interaktif, studi kasus, penugasan mandiri, tugas baca
o Partsipasi aktif mahasiswa.

BAB II
PERKEMBANGAN BAHASA INDONESIA

A. SUMBER BAHASA INDONESIA
Akar bahasa indonesia adalah berasal dari bahasa Melayu. Sejak dahulu sudah dipakai bahasa perantara (lingua franca) di kepulauan nusantara dan seluruh Asia Tenggara.
Diketahuinya penggunaan bahasa Melayu sebagai bahasa yang digunakan yakni melalui prasasti-prasasti:
o Prasasti kedukaan bukit di Palembang tahun 683
o Prasasti Talang Tuo di Palembang, 684
o Prasasti Kota Kapur di Bangka Barat 686
o Prasasti karang Brahi, Banko, Jambi 688
o Prasasti Ganda suli Jateng 832,
o Prasasti Bogor 942

B. PERESMIAN BAHASA INDONESIA
Pada tangga 28 Oktober 1928, para pemuda kita mengikrarkan Sumpah Pemuda. Naskah putusan kongres pemuda Indonesia tahun 1928 itu berisi tiga butir kebulatan tekad sebagai berikut:
Pertama : Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia.
Kedua : Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa satu bangsa Indonesia.
Ketiga : Kami putra dan putri Indonesia menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

C. ALASAN BAHASA MELAYU DIANGKAT MENJADI BAHASA INDONESIA
Empat faktor alasan bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia:
1. Merupakan lingua franca / bahasa perantara
2. Sederhana dan mudah difahami
3. Suku-suku lain di Indonesia rela dan iklas menerima bahasa Melayu sebagai bahasa Indonesia
4. Mempunyai kesanggupan untuk dipakai sebagai bahasa kebudayaan dalam arti yang luas.

D. PERISTIWA PENTING TENTANG BAHASA MELAYU/INDONESIA
1. Tahun 1901 disusun ejaan resmi bahasa Melayu oleh Ch. A. Van Ophuijesen di muat dalam kitab logat melayu.
2. Tahun 1908 pemerintah mendirikan badan penerbitan buku-buku bacaan yang diberi nama Commissie voor de Volksercctuur 9(Taman bacaan rakyat), yang tahun 1917 berubah menjadi Balai Pustaka.
3. Tanggal 28 Oktober 1928, para pemuda memancangkan tonggak yang kukuk untuk perjalanan bahasa Indonesia.
4. Tahun 1933 resmi berdiri sebuah angkatan sastrawan muda yang menamakan dirinya Pujangga Baru Indonesia dipimpin oleh Sultan Takdir Alisjahbana dan kawan-kawan
5. Tanggal 25-28 1938 dilangsungkan kongres Bahasa Indonesia di Solo.
6. Tanggal 18 Agustus 1945 ditandatangani UUD 45, dalam salah satu fasalnya menetapkan Bahasa Indonesia sebagai bahasa negara.
7. Tanggal 19 Maret 1947 diresmikan ejaan Soewandi
8. Konges Bahasa ke II pada tanggal 28 Oktober-2 November 1954
9. 16 Agustus 1972 Presiden meresmikan penggunaan ejaan yang disempurnakan.
10. 31 Agustus 1972 Penetapan Pedoman Umum ejaan bahasa Indonesia yang disempurnakan dan pembentukan istilah resmi.
11. Tahun 1978 Kongres bahasa Indonesia ke III
12. tahun 1983 Kongres bahasa Indonesia ke IV
13. 1998 Konres bahasa Indonesia ke V
14. 1993 Kongres bahasa ke VI
15. 1998 kongres bahasa Indonesia ke VII

E. KEDUDUKAN DAN FUNGSI BAHASA INDONESIA
1. Kedudukan Bahasa Indonesia
Kedudukan yang pertama yakni sebagai bahasa Nasional yaitu pemersatu bangsa. Kedudukan yang kedua sebagai bahasa Negara.
2. Fungsi Bahasa Indonesia
Fungsi yang pertama yakni sebagai lambang kebangsaan. Atas dasar kebangsaan ini, bahasa indonesia kita pellihara dan kita kembangkan serta rasa kebanggaan pmakainya senantiasa kita bina.
Fungsi kedua sebagai lambang identitas nasional, ciri bangsa Indonesia
Fungsi ketiga sebagai bahasa Nasional yakni sebagai alat perhubungan/ komunikasi antar warga, antar daerah dan suku bangsa. Menghindari kesalah fahaman.
Fungsi keempat yakni sebagai bahasa nasional, yaitu sebagai alat yang memungkinkan terlaksananya penyatuan berbagai suku bangsa.
Didalam kedudukannya sebagai bahasa Negara, bahasa Indonesia berfungsi: 1)sebagai bahasa resmi, 2) bahasa pengantar didalam dunia pendidikan, 3) alat perhubungan pada tingkat nasional untuk kepentingan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan, 4) alat pengembangan kebudayaan, ilmu pengetahuan dan teknologi.

BAB III
BAHASA INDONESIA DAN BERBAGAI RAGAMNYA

A. PENTING ATAU TIDAKNYA BAHASA INDONESIA
Dipandang dari jumlah penutur, bahasa yang pertama kali muncul adalah bahasa daerah (Bahasa Ibu). Jumlah penutur yang memberlakukan bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua berjumlah 240 juta orang (tahun 2008).
Dipandang dari luas penyebarannya, bahasa Indonesia amat penting kedudukannya, karena dari jumlah penuturannya yang tersebar dari Sabang sampai Merauke, juga digunakan oleh negara tetangga yang membuka jurusan bahasa Indonesia pada universitas di negara mereka. Sepreti Malaisya, singapore, Australia Belanda, Brunai, dan Jepang.
Dipandang dari dipakainya sebagai sarana ilmu, budaya dan susastra, bahasa Indonesia dipakai untuk sarana ilmu. Sebaliknya bahasa daerah (bahasa kerinci) tidak menjalankan fungsinya dengan baik sebagai sarana ilmu, dan budaya.

B. RAGAM LISAN DAN RAGAM TULIS
Ragam lisan dan ragam tulis, keduanya berbeda. Perbedaan itu adalah sebagai berikut:
1. Ragam lisan menghendaki adanya orang kedua, teman bicara yang berada didepan pembicara, sedngkan ragam tulis tidak mengharuskan adanya teman bicara berada di depan
2. Di dalam ragam lisan unsur-unsur fungsi gramatkal, seperti subjek, predikat, dan objek tidak selalu ditanyatak unsur-unsur itu kadang ditinggalkan. Hal ini disebabkan oleh bahasa yang digunakan itu dapat dibantu oleh gerak, mikik pandangan, angkuhan atau intonasi.
3. Ragam lisan sangat terikat pada kondisi, situasi, ruang dan waktu. Apa yang dibicarakan secara lisan di dalam sebuah ruang kuliah, hanya akan berarti dapat berlaku untuk waktu itu saja. Apa yang diperbincangkan dalam suatu ruang diskusi susastra belum tentu dapat di mengerti oleh orang yang ada dalam ruang itu. Sebaliknya ragam tulis tidak terikat oleh situasi, kondisi, ruang dan waktu. Sesuatu yang ditulis di Indonesia dapat di pahami oleh orang yang ada di Amerika, atau Ingris.
4. Ragam lisan dipengaruhi oleh tinggi rendahnya, panjang pendeknya suara, sedangkan ragam tulis dilengkapi dengan tanda baca.

C. RAGAM BAKU DAN TIDAK BAKU
Ragam baku adalah ragam yang dilembagakan dan di akui oleh sebagian besar warga masyarakat pemakainya sebagai bahasa resmi dan sebagai kerangka rujuakan norma bahasa dalam penggunaannya.
Ragam tidak baku adalah ragam yang tidak dilembagakan dan ditandai oleh ciri-ciri yang menyimpang dari norma ragam baku.
Ragam baku mempunyai sifat-sifat sebagai berikut:
1. Mantap artinya sesuai kaidah bahasa. Contoh awalan pe (rasa, rajin) menjadi perasa, perajin. Jika menjadi (pengrajin) maka seharusnya tidak dapat diterima.
2. Dinamis artinya tidak statis, tidak kaku. Bahasa baku tidak menghendaki adanya bentuk mati. Kata langganan mempunyai makna ganda, yaitu orang yang berlangganan dan toko tempat berlangganan. Dalam hal ini, tokonya disebut langganan dan orang yang berlangganan itu disebut pelanggan.
3. Cendikia, karena fagam baku dipakai pada tempat-tempat resmi. Pewujud ragam baku ini adalah orang-orang terpelajar.

D. RAGAM BAKU TULIS DAN RAGAM BAKU LISAN
Ragam baku tulis adalah ragam yang dipakai dengan resmi dalam buku-buku pelajaran atau buku-buku ilmiah lainnya.
Ragam baku lisan ukuran dan nilai ragam ini bergantung pada besar atau kecilnya ragam daerah yang terdengar dalam ucapan. Seseorang dapat dikatakan berbahasa lisan yang baku kalau dalam pembicaraannya tidak terlalu menonjol pengaruh logat atau dialek daerahnya.

E. RAGAM SOSIAL DAN RAGAM FUNSIONAL
Ragam sosial yaitu ragam bahasa yang sebagian norma dan kaidahnya didasarkan atas kesepakatan bersama dalam lingkungan sosial yang lebih kecil dalam masyarakat. Ragam bahasa yang digunakan dalam keluarga atau persahabatan dua orang yang akrab dapat merupakan ragam sosial tersendiri.
Ragam baku nasional dapat berfungsi sebagai ragam sosial yang tinggi, sedangkan ragam baku daerah atau ragam sosial yang lain merupakan ragam sosial dengan nilai kemasyarakatan yang rendah.
Ragam fungsional, yang kadang-kadang disebut juga ragam profesional, adalah ragam bahasa yang dikaitkan dengan profesi, lembaga, lingkungan kerja atau kegiatan tertentu lainnya. Ragam fungsional juga dikaitkan dengan keresmian keadaan penggunaannya. Dalam kenyataan, ragam fungsional menjelma sebagai bahasa negara dan bahasa teknis keprofesian seperti bahasa dalam lingkungan keilmuan/ teknologi, kedokteran, dan keagamaan.

BAB IV
DIKSI ATAU PILIHAN KATA

A. PENGERTIAN DIKSI
Diksi adalah pilihan kata. Maksudnya memilih kata yang tepat untuk menyatakan sesuatu. Memilih kata yang tepat adalah sangat penting baik untuk karang mengarang maupun dalam dunia tutur setiap hari, untuk menyatakan suatu maksud.
Kata yang tepat akan membantu seseorang mengungkapkan dengan tepat apa yang ingin disampaikannya, baik lisan maupun tulisan. Disamping itu pemilihan kata harus sesuai dengan situasi dan tempat penggunaan kata-kata itu.

B. MAKNA DENOTATIF DAN KONOTATIF
Makna denotatif adalah makna dalam alam wajar secara eksplisit. Makna wajar ini adalah makna yang sesuai dengan apa adanya. Denotatif adalah suatu pengertian yang dikandung sebuah kata secara objektif (konseptual). Contoh kata makan berarti memasukan sesuatu ke dalam mulut.
Kata konotatif adalah makna asosiatif, makna yang timbul sebagai akibat ddari sikap sosial, sikap pribadi, dan kriteria tambahan yang dikenakan pada sebuah makna konseptual. Contoh kata makan dapat berarti untung atau pukun.

C. MAKNA UMUM DAN KHUSUS
Kata umum (generik) disebut superordinat, sedang kata khusus (spesifik) disebut hiponim. Contoh kata umum (hewan), spesifiknya banyak hewan misalnya gajah, kuda, sapi , beruang, singa, dan lainnya. Atau kata umum (bunga), spesifiknya banyak bunga seperti teratai, mawar, melati, anggrek dan lainnya.

D. KATA KONGRET DAN ABSTRAK
Kata kongkret adalah yang mudah diserap oleh pancaindra seperti rumah, meja, kursi, papan tulis, dan buku. Sedangkan kata abstrak tidak mudah diserap oleh pancaindra seperti ide, gagasan, perdamaian, kehendak, keinginan, angan-angan dan kesibukan.
Kata abstrak biasa dipakai pada suatu karangan. Tetapi jika kata abstrak terlalu banyak dipakai, maka karangan akan menjadi samar dan tidak cermat.

E. SINONIM
Sinonim adalah dua kata atau lebih yang pada dasarnya memiliki makna yang sama, tetapi bentuknya berlainan. Kesinoniman kata tidaklah mutlak, hanya ada kesamaan atau kemiripan.
Sinonim ini dipergunakan untuk mengalih-alihkan pemakaian akata pada tempat tertentu sehingga kalimat itu tidak membosankan. Dalam pemakaian bentuk-bentuk kata yang bersinonim akan menghidupkan bahasa seseorang dan mengkongkretkan bahasa seseorang sehingga kejelasan komunikasi akan terwujud.

F. PEMBENTUKAN KATA
Ada dua cara pembentukan kata, yaitu dari dalam dan dari luar bahasa Indonesia. Dari dalam bahasa Indonesia terbentuk kosakata baru dengan dasar kata yang sudah ada, sedangkan dari luar terbentuk kata baru melalui unsur serapan.
Dari dalam bahasa Indonesia terbentuk kata baru misalnya:
Tata Daya Serba
Tata buku
Tata bahasa
Tata rias
Tata cara Daya serap
Daya pukul
Daya tarik
Dasa tahan Serba putih
Serba plastik
Serba kuat
Serba tahu

Dari luar bahasa Indonesia terbentuk kata-kata melalui pungutan kata, misalnya:
Bank wisata
Kredit santai
Valuta nyeri
Televisi candak kulak
Kata pungut adalah kata yang diambil dari kata asing. Hal lini disebabkan oleh kebutuhan kita terhadap nama dan penamaan benda atau situasi tertentu yang belum dimiliki oleh bahasa Indonesia. Pungutan kata-kata asing bersifat internasional sangat kita perlukan karena kita memerlukan suatu komunikasi dalam dunia dan teknologi modern.
Kata-kata yang dipungut tanpa diubah, tetapi ada juga yang diubah.
Bentuk-bentuk serapan ada empat macam:
1. Kita mengambil kata yang sudan sesuai dengan ejaan bahasa Indonesia
Bank
Golf
Opname
2. Kita mengambil kata dan menyesuaikan kata itu dengan ejaan bahasa Indonesia
Subject subjek
Apotheek apotek
Standard standar
University universitas
3. Kita menerjemahkan dan memadankan istilah asing ke dalam bahasa Indonesia
Starting poin titik tolak
Meet the press jumpa pers
Up to date mutkahir
Briefing taklimat
Hearing dengar pendapat
4. Kita mengambil istilah yang tetap seperti aslinya.
De facto
Status quo
Cumlaude
Ad hoc
5. Kita juga dapat menyerap dari bahasa daerah
Penggunaan kata dalam situasi resmi hendaknya:
1. lazim di pakai
2. Mengandung nilai rasa harus sesuai penempatannya( tunanetra=buta, tunarungu=tuli, tunawicara=bisu)
3. kata yang tidak lazim dihindari, kecuali yang sudah dipakai masyarakat. (konon, bayu, laskar,

G. KESALAHAN PEMBENTUKAN DAN PEMILIHAN KATA
1. Penanggalan awalan meng-
o Amerika Serikat luncurkan pesawat bolak balik Columbia (salah)
o Amerika Serikat meluncurkan pesawat bolak balik Columbia (benar)
2. Penanggalan awalan ber-
o Sampai jumpa lagi (salah)
o Sampai berjumpa lagi (benar)
3. Peluluhan bunyi/c/
o Wakidi sedang menyuci mobil (salah)
o Wakidi sedang mencuci mobil (benar)

4. Penyengauan Kata Dasar
Kata yang sering digunakan/ salah Seharusnya/ yang benar
Mandang
Ngail
Ngantuk
Nabrak
Nanam
Nulis
Nyubit
Ngepung
Nolak
Nyabut
Nyuap
nyari Memandang
Mengail
Mengantuk
Menabrak
Menanam
Menulis
Mencubit
Mengepung
Menolak
Mencabut
Menyuap
mencari

5. Bunyi /s/k/p/dan /t/ yang berimbuhan meng-/peng- (menurut kaidah bahasa Indonesia harus lebur)
Kata yang sering digunakan (tidak lebur)/ salah Seharusnya melebur/ yang benar
Pensuplai
Mengkikis
Mentaati Menyuplai
Mengikis
menaati

6. Awalan ke- yan keliru
Kata yang sering digunakan / salah Seharusnya / yang benar
Ketabrak
Kebawa
Ketawa Tertabrak
Terbawa
Tertawa
7. Pemakaian akhiran –ir
Kata yang sering digunakan / salah Seharusnya / yang benar
Mengkoordinir
Memproklamirkan
Akomodir
Intimidir
Legalisir
Lokalisir
Realisir Mengkoordinasi
Mengproklamasikan
Akomodisasi
Intimidasi
Legalisasi
Lokalisasi
Realisasi

8. Pedanan yang tidak serasi
o Karena modal di bank terbatas, sehingga tidak semua pengusaha lemah memperoleh kredit. (salah)
o Karena modal di bank terbata, tidak semua pengusaha lemah memperoleh kredit. (benar)
o Modal di bank terbatas sehingga tidak semua pengusaha lemah memperoleh kredit. (benar)

H. UNGKAPAN IDIOMATIK
Ungkapan idiomatik adalah konstruksi yang khas pada suatu bahasa yang salah satunya unsurnya tidak dapat dihilangkan atau diganti. Ungkapan idiomatik adalah kata-kata yang mempunyai sifat idiom yang tidak terkena kaidah ekonomi bahasa.
Ungkapan idiomatik memiliki dua atau tiga kata yang dapat memperkuat diksi di dalam tulisan.
Contoh:
o Menteri Dalam Negeri bertemu Presiden SBY (salah)
o Menteri Dalam Negeri bertemu dengan Presiden SBY (benar)

BAB V
KALIMAT DALAM BAHASA INDONESIA

A. PENGERTIAN KALIMAT
Sekurang-kurangnya kalimat dalam ragam resmi mimiliki: subjek (s) predikat (p). kalau tidak memiliki unsur subjek predikat, itu bukan kalimat, tetapi disebut frasa.
Kalimat adalah satuan bahasa terkecil, dalam lisan atau tulisan, yang mengungkapkan pikiran yang diutuh. Dalam ragam lisan kalimat diucapkan dengan naik turunnya suara, keras lembut, jeda dan intonasi bibir. Sedangkan dalam ragam tulis, kalimat dimulai dengan huruf kafital, tanda titik, tanda tanya, atau tanda seru.

B. POLA KALIMAT DASAR
Singkatan yang digunakan dalam makalah ini:
S Subjek
P Predikat
O Objek
K Keterangan
Pel Pelengkap
KB Kata benda
KK Kata kerja
KS Kata sifat
K Bil Kata bilangan (numeralia)
FD Frasa depan (preposisi)
KD kata depan (preposisi)

Pola kalimat dasar:
1. KK + KK = Mahasiswa berdiskusi
2. KB + KS = Dosen itu ramah
3. KB + K Bil = Harga buku itu tiga puluh ribu rupiah
4. KB1 +KK+KB2 = Mereka menonton film
5. KB1+KK+KB2+KB3 = Paman mencariakan saya pekerjaan
6. KB1+KB2 = Rustam peneliti.

C. JENIS KALIMAT MENURUT STRUKTUR GRAMATIKA
1. Kalimat tunggal (satu subjek, satu predikat)
2. Kalimat majemuk setara (dua kalimat tunggal atau lebih yang dapat dihubungkan dengan kata dan, serta, atau)
3. Kalimat majemuk tidak setara/ bertingkat (terdiri dari kalimat bebas dan kalimat terikat. Kalimat ini menggambarkan kepentingan yang berbeda)
Contoh:
o Komputer itu dilengkapi dengan alat-alat modern (tunggal)
o Mereka masih dapat mengacaukan data-data koomputer (tunggal)
o Walaupun komputer itu dilengkapi dengan alat-alat modern, mereka masih dapat mengacaukan data-data komputer itu.
4. Kalimat majemuk tak setara yang berunsur sama
Jika dalam anak kalimat tidak terdapat subjek, itu berarti bahwa subjek anak kalimat sama dengan subjek induk kalimat.
Contoh:
o Usul itu tidak melanggar hukum
o Ia menyetujui usul itu.
o Karena usul itu tidak melanggar hukum, ia menyetujuai usul itu. (benar)
o Karena tidak melanggar hukum, ia menyetujui usul itu (benar, perapatan unsur subjek pada induk kalimat, dan objek pada anak kalimat yang sama yaitu (usul))
5. Penghilangan kata penghubung
o Membaca surat itu
o Saya sangat terkejut
o Setelah (saya) membaca surat itu, saya sangat terkejut
o Setelah membaca surat itu, saya sangat terkeju (benar)
Setelah adalah penanda anak kalimat.
6. Kalimat majemuk campuran (terdiri dari kallimat majemuk bertingkat dan kalimat majemuk setara)
Contoh:
1. Karena hari sudah malam, kami berhenti dan langsung pulang ( bertingkat +setara)
2. Kami pulang, tetapi mereka masih bekerja karena tugasnya belum selesai. (setara + bertingkat).

D. JENIS KALIMAT MENURUT BENTUK GAYANYA
Tulisan akan lebih efektif jika di samping kalimat-kalimat yang disusunnya benar, juga gaya penyajiannya (retorikanya) menarik perhatian pemmbacanya.
1. Kalimat melepas
Jika kalimat disusun dengan diawali unsur utama yaitu induk kalimat dan diikuti oleh unsur tambahan, yaitu anak kalimat, gaya penyajian kalimat itu disebut melepas. Unsur anak kalimat ini seakan-akan dilepaskan saja oleh penulisnya dan kalaupun unsur ini tidak di ucapkan, kalimat itu bermakna lengkap. Misalnya:
o Saya akan dibelikan vespa oleh Ayah jika saya lulus ujian sarjana.
o Semua warga negara harus menaati segala perundang-undangan yang berlaku agar kehidupan di negeri ini berjalan tertib dan aman.
2. Kalimat klimaks
Jika kalima itu disusun dengan diawali oleh anak kalimat dan diikuti oleh induk kalimat, gaya penyajian kalimat itu disebut berklimaks. Pembaca belum dapat memahami kalimat tersebut jika baru membaca anak kalimatnya. Pembaca akan memahami makna kalimat itu setelah membaca induk kallimatnya. Sebelum kalimat itu selesai, serasa ada sesuatu yang masih di tunggu, yaitu induk kalimat. Misalnya:
o Karena sulit kendaraan, ia datang terlambat ke kantornya.
o Setelah 1.138 hari disekap dalam sebuah ruangan, akhirnya tiga sandera warga negara Perancis itu dibebaskan juga.

E. JENIS KALIMAT MENURUT FUNGSINYA
1. Kalimat pernyataan /deklaratif
Kalimat pernyataan dipakai jika penutur ingin menyatakan sesuatu dengan lengkap pada waktu ia ingin menyampaikan informasi kepada lawan berbahasanya. (biasanya, intonasi menurun: tanda baca titik)
Positif:
o Presiden SBY mengadakan kunjungan ke luar negeri.
o Indonesia menggunakan sistem anggaran yang berimbang.
Negatif:
o Tidak semua nasabah bank memperoleh kredit lemah.
o Dalam pameran tersebut para pengunjung tidak mendapat informasi yang memuaskan tentang bisnis kondominium di kota-kota besar.

2. Kalimat pertanyaan/ introgatif (posotif dan negatif).
Kalimat pertanyaan dipakai jika penutur ingin memperoleh informasi atau reaksi (jawaban) yang diharapkan. (biasanya, intonasi menurun: tanda baca tanya). Pertanyaan sering menggunakan kata tanya seperti bagaimana, di mana, mengapa, berapa, dan kapan.
Positif:
o Kapan Saudara berangkat ke Singapura?
o Mengapa dia gagal dalam ujian?
Negatif:
o Mengapa gedung ini dibangun tidak sesuai dengan bestek yang disepakati?
o Mengapa tidak semua fakir miskin di negara kita dapat dijamin penghidupannya oleh negara?
3. Kalimat Perintah (menyuruh) dan permintaan (melarang)
Positif:
o Maukan kamu disuruh mengantarkan buku ini ke pak Sahluddin!
o Tolong buatkan dahulu rencana pembiayaannya!
Negatif:
o Sebaiknya kita tidak berfikiran sempit tentang hak asasi manusia!
o Janganlah kita enggan mengeluarkan zakat jika sudah tergolong orang mampu!
4. Kalimat Seruan
Kalimat seruan dipakai jika penutur ingin mengungkapkan perasaan “yang kuat” atau yang mendadak. (Biasanya ditandai oleh naiknya suara pada kalimat lisan dan dipakainya tanda seru atau tanda titik pada kalimat tulis)
Positif:
o Bukan main, cantiknya.
o Nah ini dia yang kita tunggu.
Negatif:
o Aduh, pekerjaan rumah saya tidak tertaba.
o Wah, target KON di Sea Games XXIII tahun 2005 di Manila tidak tercapai.

F. KALIMAT EFEKTIF
Kalimat efektif ialah kalimat yang memiliki kemampuan untuk menimbulkan kembal gagasan-gagasan pada pikiran pendengar atau pembaca seperti apa yang ada dalam pikiran pembicara atau penulis.
Sebuah kalimat efektif mempunyai ciri khas, yaitu kesepadanan struktur, keparalelan bentuk, ketegasan makna, kehematan kata, kesermatan penalaran, kepaduan gagasan dan kelogisan bahasa.
1. Kesepadanan (kejelasan subjek, predikat dengan menghindari kata depan)
o Bagi semua mahasiswa perguruan tinggi ini harus membayar uang kuliah (salah)
o Semua mahasiswa perguruan tinggi ini harus membayar uang kuliah (benar)
2. Keparalelan (kesamaan bentuk kata yang digunakan)
3. Ketegasan
Penegasan atau penekanan ialah suatu perlakuan penonjolan pada ide pokok kalimat. Baik ditonjolkan didepan kalimat, bertahap atau pengulangan kata (repetisi)
o Presiden mengharapkan agar rakyat membangun bangsa dan negara ini dengan kemampuan yang ada pada dirinya.
4. Kehematan
Kehematan dalam kalimat efektif adalah hemat mempergunakan kata, frasa, atau bentuk lain yang dianggap tidak perlu. Dengan cara menghilangkan pengulangan objek, menghindarkan pemakaian superordinat pada hiponim kata.
o Karena ia tidak diundang, dia tidak datang ke tempat itu (salah).
o Karena tidak diundang, dia tidak datang ke tempat itu (benar)
o Ia memakai baju warna merah (salah)
o Ia memakai baju merah (benar)
5. Kecermatan
o Yang diceritakan menceritakan tentang putra-putri raja, para hulubalang, dan para menteri. (salah)
o Yang diceritakan ialah putra-putri raja, para hulubalang, dan para menteri. (benar)
5. Kepaduan
Yang dimaksud dengan kepanduan ialah kepanduan pernyataan dalam kalimat itu sehingga informasi yang disampaikannya tidak terpecah-pecah. Tidak bertele-tele.
Contoh kalimat yang panjang dan bertele-tele:
o Kita harus dapat mengembalikan kepada kepribadian kita orang-orang kota yang telah terlanjur meninggalkan rasa kemanusiaan itu dan yang secara tidak sadarbertindak keluar dari kepribadian manusia Indonesia dari sudut kemanusiaan yang adil dan beradab. (bertele-tele).
6. Kelogisan
Yang dimaksud kelogisan ialah bahwa ide kalimat itu dapat diterima oleh akal dan penulisannya sesuai dengan ejaan yang berlaku.
o Waktu dan tempak kami persilahkan (salah)
o Bapak Menteri kami persilahkan. (benar)
o Untuk mempersingkat waktu, kita teruskan acara ini. (salah)
o Untuk menghemat waktu, kita teruskan acara ini. (benar)
o Taufiq Hidayat meraih juara (salah)
o Taufiq Hidayat meraih gelar juara. (benar)

BAB VI
PARAGRAF DALAM BAHASA INDONESIA

A. PENDAHULUAN
Paragraf adalah seperangkat kalimat yang membicarakan suatu gagasan atau topik. Kalimat-kalimat dalam paragraf memperhatikan kesatuan pikiran atau mempupnyai keterkaitan dalam bentuk gagasan atau topik tertentu. Satu paragraf boleh terdiri dari beberapa kalimat.

B. SYARAT-SYARAT PARAGRAF
1. Kesatuan paragraf
Kallimat-kalimat dalam satu paragraf perlu ditata secara cermat agar tidak ada satu pun kalimat yang menyimpang dari pokok paragrap.
2. Kepaduan paragraf
Kepaduan paragraf dapat terlhat melalui penyusunan kalimat se cara logis dan melalui ungkapan-unkapan (kata-kata) pengait antarkalimat. Urutan yang logis akan terlihat dalam susunan kalimat-kalimat dalam paragraf itu.
Pengait Paragraf:
a. Ungkapan penghubung transisi.
b. Kata ganti.
c. Kata kunci (pengulangan kata yang dipentingkan).

C. PEMBAGIAN PARAGRAF MENURUT JENISNYA
1. Paragraf pembuka
Paragraf ini merupakan pembuka atau pengantar untuk sampai pada segala pembicaraan yang akan menyusul kemudian. Paragraf pembuka harus dapat menarik minta dan perhatian pembaca, serta sanggup menghubungkan pikiran pembaca kepada masalah yang akan disajikan selanjutnya. Salah satu cara menarik perhatian adalah dengan mengutip pernyataan yang memberikan rangsangan dari para orang terkemuka atau orang terkenal
2. Paragraf pengembang
Paragrap pengembang ialah paragraf yang terletak antara paragraf pembuka dan paragraf terakhir. Paragraf itu mengembangkan pokok pembicaraan yang dirancang. Mengungkapkan inti persoalan.
3. Paragraf penutup
Paragrap penutup adalah paragraf yang terdapat pada akhir karangan atau pada akhir suatu kesatuan yang lebih kecil di dalam karangan itu. Biasanya, paragraf penutup berupa simpulan semua pembicaraan yang telah dipaparkan pada bagian-bagian sebelumnya.

D. TANDA PARAGRAF
Paragraf ditandai dengan memmulai kalimat pertama agak menjorok ke dalam, kira-kira lima ketukan mesin ketik atau kira-kira dua sentimeter. Dengan demikian pembaca mudah dapat melihat permulaan tiap paragraf sebab awal paragraf ditandai oleh kalimat permulaannya yang tidak ditulis sejajar dengan garis margin atau garis pias kiri. Selain itu, penulis dapat pula menambahkan tanda sebuah paragraf itu dengan memberi jarak agak renggang dari paragraf sebelumnya.

E. RANGKA ATAU STRUKTUR SEBUAH PARAGRAF
Rangka atau struktur sebuah paragraf terdiri atas sebuah kalimat topik dan beberapa kalimat penjelas. Dengan kata lain apabila dalam sebuah paragraf terdapat lebih dari sebuah kalimat topik, paragraf itu tidak termasuk paragraf yang baik.
Kalimat topik adalah kalimat yang berisi topik yang dibicarakan pengarang. Pengarang meletakkan inti maksud pembicaraannya pada kalimat topik.
Kalimat topik adalah kalimat utama dalam sebuah paragraf, karena setiap paragraf hanya memiliki satu topik.
Kalimat utama bersifat umum.

F. PARAGRAF INDUKTIF DAN DEDUKTIF
Paragraf deduktif adalah paragraf yang meletakkan kalimat topik pada awal paragraf.
Paragraf induktif adalah paragraf yang meletakkan kalimat topik pada akhir paragraf.
Contoh paragraf deduktif:
Arang aktif ialah sejenis arang yang dipeoleh daru suatu pembakaran yang mempunyai sifat tidak larut dalam air. Arang ini dapat diperoleh dari pembakaran zat-zat tertentu, seperti ampas tebu, tempurung kelapa, dan tongkol jagung. Jenis arang ini banyak digunakan dalam beberapa industri pangan atau nopangan. Industri yang menggunakan arang aktif adalah industri kimia dan farmasi, seperti pekerjaan memurnikan minyak, menghilangkan bau yang tidak murni, dan menguapkan zat yang tidak perlu.

Contoh paragraf induktif:
Dua anak kecil ditemukan tewas di pinggir jalan Jenderal Sudirman. Seminggu kemudian anak wanita hilang ketika pulang dari sekolah. Sehari kemudian polisi menemukan bercak-bercak darah di kursi belakang mobil john. Polisi juga menemukan potret dua anak yang tewas di jalan Jenderal Sudirman di dalam kantung celana John. Dengan demikian, John adalah orang yang dapat dimintai pertanggungjawaban tentang hilangnya tiga anak itu.

G. PENGEMBANGAN PARAGRAF
Mengarang itu adalah usaha mengembangkan beberapa kalimat topik. Dengan demikian, dalam karangan itu kita harus mengembangkan beberapa paragraf demi paragraf. oleh karena itu, kita harus hemat menempatkan kalimat topik. Satu paragraf hanya mengandung sebuah kalimat topik.

H. TEKNIK PENGEMBANGAN PARAGRAF
Teknik pengembangan paragraf ada dua macam. Pertama, dengan menggunakan “ilustrasi”. Apa yang dikatakan kalimat topik itu dilukiskan dan digambarkan dengan kalimat-kalimat penjelas sehingga di depan pembaca tergamba dengan nyata apa yang dimaksud oleh penulis. Kedua, dengan “analisis”. Apa yang dinyatakan kalimat topik dianalisis secara logis sehingga pernyataan tadi merupakan sesuatu yang meyakinkan.
Dalam praktik, kedua teknik diatas dapat diperinci lagi menjadi beberapa cara yang lebih praktis, diantaranya. a) dengan memberikan contoh, b) dengan menampilkan fakta-faktaa, c) dengan memberikan alasan-alasan, dan d) dengan bercerita.

I. PEMBAGIAN PARAGRAF MENURUT TEKNIK PEMAPARANNYA.
1. Deskriptif
Paragraf diskriptif disebut juga paragraf yang melukiskan (lukisan). Melukiskan apa yang didepan mata, jadi bersifat tata ruang atau tata letak. Pembicaraannya dapat berurutan dari atas ke bawah atau dari kiri ke kanan. Dengan kata lain, deskriptif berurusan dengan hal-hal kecil yang tertangkap oleh pancaindra.
2. Ekspositoris
Paragraf ekspositoris disebut juga paragraf paparan. Paragraf i ni menampilkan suatu objek. Peninjauannya tertuju pada satu unsur saja. Penyampaiannya dapat menggunakan perkembangan analisis kronologis atau keruangan.
3. Argumentatif
Paragraf argumentaif sebenarnya dapat dimasukan ke dalam ekspositoris. Paragraf argumentatif disebut juga persuasi. Paragraf ini lebih bersifat membujuk atau meyakinkan pembaca terhadap suatu hal atau objek. biasanya, paragraf ini menggunakan perkembangan analisis.
4. Naratif
Karangan narasi biasanya dihubung-hubungkan dengan cerita. Oleh sebab itu, sebuah karangan narasi atau paragraf narasi hanya kita temukan dalam novel, cerpen, atau hikayat.

VII
PENALARAN

A. BEBERAPA PENGERTIAN
Penalaran adalah suatu proses berfikir manusia untuk menghubung-hubungkan data atau fakta yang ada sehingga sampai pada suatu simpulan. Datau atau fakta yang akan dinalar itu boleh benar dan boleh tidak benar. Di sinilah letaknya kerja penalaran. Orang akan menerima data dan fakta yang benar dan tentu saja akan menolak fakta yang belum jelas kebenarannya. Data yang dapat dipergunakan dalam penalaran untuk mencapai satu simpulan ini harus berbentuk kalimat pernyataan kalimat yang dapat dipergunakan sebagai data itu disebut proposisi

1. Proposisi dan Term
Term penalaran adalah kata atau kelompok data yang dapat dijadikan subjek atau predikat dalam sebuah proposisi.
Contoh:
o Semua tebu manis
o Semua tebu adalah term
o Manis adalah term
Proposisi adalah pernyataan tentang hubungan yang terdapat di antara di antara subjek predikat. Dengan kata lain, proposisi adalah penyataan yang lengkap dalam bentuk subjek predikat atau term-term yang berbentuk kalimat.
Suatu proposisi mempunyai subjek predikat. Dengan demikian, proposisi pasti berbentuk kalimat, tetapi setiap kalimat berita yang netral yang dapat disebut proposisi.
Kalimat tanya, kalimat perintah, kalimat harapan tidak dapat disebut prooposisi. Kalimat tersebut dapat dijadikan proposisi, jika dirubah bentuknya menjadi kalimat yang netral.
Kalimat berikut bukan proposisi
a. Bangsa burungkah ayah? (kalimat tanya)
b. Mudah-mudahan Indonesia menjadi negara makmur. (kalimat harapan)
c. Berdirilah kamu di pinggir pantai. (kallimat perintah)
Kalimat-kallimat itu bisa dirubah menjadi proposisi sebagai berikut:
a. Ayam adalah burung
b. Indonesia menjadi negara makmur
c. Kamu berdiri di pinggir pantai
Prososisi harus terdiri dari subjek, predikat.

2. Jenis-jenis Proposisi
Proposisi dapat dipandang dari empat kriteria, yaitu berdasarkan bentuknya, sifatnya, kualitas dan kuantitasnya. Berdasarkan bentuknya proposisi dibagi menjadi proposisi tunggal dan majemuk. Proposisi tunggal hanya mengandung satu pernyataan.
Contoh:
o Semua petani harus bekerja keras.
o Setiap pemuda adalah calon pemimpin.
Contoh: proposisi majemuk (terdiri dari dua proposisi)
o Semua petani harus bekerja keras dan semua petani harus hemat.

Berdasarkan sifatnya, proposisi dapat dibagi menjadi proposisi kategorial dan kondisional. Dalam proposisi kategorial hubungan antara subjek dan predikat terjadi dengan tanpa syarat.
Contoh:
o Semua bemo beroda tiga
o Sebagian binatang tidak berekor
Dalam proposisi kondisional hubungan antara subjek predikat terjadi dengan syarat tertentu.
Contoh:
o Jika air tidak ada, manusia akan kehausan
Berdasarkan kualitasnya, proposisi dapat dibagi atas proposisi positif (afirmati) dan prooposisi negatif. Proposisi afirmatif adalah proposisi yang membenarkan adanya persesuaian hubungan antara subjek dan predikat.
Contoh:
o Semua dokter adalah orang pintar.
o Sebagian manusia adalah bersifat sosial.
Proporsisi negatif adalah proposisi yang menyatakan bahwa antara subjek dan predikat tidak mempunyai hubungan. Dengan kata lain, proposisi negatif meniadakan hubungan antara subjek dan predikat.
Contoh:
o Semua harimau bukanlah singa.
o Sebagian orang jempo tidaklah pelupa.

3. Bentuk-bentuk Proposisi.
a. Berdasarkan kualitas positif negatif
o Proposisi umum positif- disebut proposisi A
– Semua mahasiswa adalah lulusan SMTA.
– Semua karya ilmiah mempunyai daftar pustaka.
o Proposisi umum negatif-disebut proposisi B
– Tidak seorang mahasiswa pun lulusan SMTA.
– Tidak seekor gajah pun berekor enem.
o Proposisi khusus positif-disebut proposisi I
– Sebagian mahasiswa adalah anak pejabat.
– Sebagian perguruan tinggi dikelola oleh yayasan.
o Proposisi khusus negatif-disebut proposisi O
– Sebagaian mahasiswa tidak mempunyai mobil.
– Sebagian perguruan tinggi tidak dikelola oleh yayasan.
b. Berdasarkan kuantitas umum dan khusus.

B. PENALARAN DEDUKTIF
Penalaran deduktif bertolak dari sebuah konklusi atau simpulan yang didapat dari satu atau lebih pernyataan yang lebih umum. Simpulan yang diperoleh tidak mungkin lebih umum dariada proposisi tempat menarik simpulan itu. Proposisi tempat menarik simpulan itu disebut premis.
Penarikan simpulan (konklusi) secara deduktif dapat dilakukan secara langsung dan dapat pula dilakukan secara tidak langsung.
1. Menarik simpulan (konklusi) secara langsung. (simpulan yang ditarik dari satu premis)
o Semua ikan berdarah dingin. (premis)
o Sebagian yang berdarah dingin adalah ikan. (simpulan)
2. Menarik simpulan (konklusi) secara tidak langsung.(simpulan yang ditarik dari dua premis). Akan dihasilkan sebuah simpulan. Permis pertama adalah bersifat umu, premis kedua bersifat khusus. Untuk menarik simpulan ini, diperlukan (pernyataan dasar) bersifat semua orang sudah tahu.
Beberapa jenis deduksi dengan panarikan secara tidak langsung sebagai berikut:
a. Silogisme Kategorial
Silogisme kategorial ialah silogisme yang terjadi dari tiga proposisi. Dua proposisi merupakan premis dan satu proposisi merupakan simpulan. Premis yang bersifat umum disebut (premis mayor). Premis yang bersifat khusus disebut (premis minor). Dalam simpulan terdapat subjek (term mayor), predikat (term minor).
o Semua manusia tidak bijaksana.
o Semua kera bukan manusia.
o Jadi, (tidak ada simpulan)
Aturan umum silogisme kategorial adalah sebagai berikut:
1) Silogisme harus terdiri dari: term mayor, term minor dan term penengah.
2) Silogisme terdiri atas tiga proposisi: premis mayor, premis minor, dan simpulan.
3) Dua premis yang negatif tidak dapat mengahasilkan simpulan.
4) Dari premis yang positif, akan dihasilkan simpulan yang positif.
5) Dari dua premis yang khusus tidak dapat ditarik satu simpulan.
6) Bila salah satu premisnya khusus, simpulan akan bersifat khusus.
7) Dari premis mayor yang khusus dan premis minor yang negatif tidak dapat ditarik satu simpulan.

b. Silogisme hipotesis
Adalah silogisme yang terdiri atas premis mayor yang berproposisi kondisional hipotesis.
Kalau premis minornya membenarkan anterseden, premis mayor yang berproporsisi kondisional hipotesis.
Kalau premis minornya menolak anteseden, simpulannya juga menolak konsekuen.
Contoh:
o Jika besi dipanaskan, besi akan memuai.
o Besi dipanaskan.
o Jadi, besi memuai.
o Jika besi tidak dipanaskan, besi tidak akan memuai.
o Besi tidak dipanaskan. Jadi, besi tidak akan memuai.

c. Silogisme alternatif
Adalah silogis yang terdiri atas premis mayor berupa proposisi alternafil kalau premis minornya membenarkan salah satu alternatif, simpulannya akan menolak alternatif lain.
o Dia adalah seorang kiai atau profesor.
o Dia seorang kiai.
o Jadi, dia bukan seorang profesor.
o Dia adalah seorang kiai atau profesorl
o Dia bukan seorang kiai.
o Jadi, dia seorang profesor.

d. Entimen
Sebenarnya silogisme ini jarang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam tulisan maupun dalam lisan. Akan tetapi, ada bentuk silogisme yang tidak mempunyai premis mayor karena premis mayor itu sudah diketahui secara umum. Yang dikemukakan hanya premis minor dan simpulan.
Contoh:
o Semua sarjana adalah orang yang cerdas.
o Ali adalah seorang sarjana.
o Jadi, alli adalah orang cerdas.
Silogisme ini dapat ditarik entimen, yaitu “Ali adalah orang cerdas karena ia adalah seorang sarjana”.
Beberapa contoh entimen:
o Dia menerima hadiah pertama karena dia telah menang dalam sayembara itu.

C. PENALARAN INDUKTIF
Penalaran induktif adalah penalaran yang bertolak dari pernyataan-pernyataan yang khusus dan menghasilkan simpulan yang umum. Dengan kata lain, simpulan yang tiperoleh tidak lebih khusus dari pada pernyataan (premis).
1. Generalisasi
Generalisasi ialah proses penalaran yang mengandalkan beberapa pernyataan yang mempunyai sifat tertentu untuk mendapatkan simpulan yang bersifat umu.
2. Analogi
Analogi ialah cara penarikan penalaran secara membandingkan dua hal yang mempunyai sifat sama.
Contoh:
o Nina adalah lulusan akademi A.
o Nina dapat menjalankan tugasnya dengan baik.
o Ali adalah lulusan akademi A.
o Oles sebab itu, Ali dapat menjalankan tugasnya dengan baik.
3. Hubungan Kausal
Hubungan kausal adalah penalaran yang diperoleh dari gejala-gejala yang saling berhubungan. (Sebab akibat, Akibat sebab, Akibat akibat).

D. SALAH NALAR
Gagasan, pikiran, kepercayaan atau simpulan yang salah keliru, atau cacat disebut salah nalar. Salah nalar ini disebabkan oleh kitidaktepatan orang mengikuti tata cara pikirannya. Apabila kita perhatikan beberapa kalimat dalam bahasa Indonesia secara cermat, kadang-kadang kita temukan beberapa pernyataan (premis) yang tidak masuk akal. Kalimat-kalimat itu hasil dari salah nalar.

1. Diskusi yang salah
Salah nalar disebabkan oleh deduksi yang salah merupakan salah nalar yang amat sering dilakukan orang. hal ini terjadi karena orang salah mengambil simpulan dari suatu silogisme dengan diawali oleh premis yang salah atau tidak memenuhi syarat.

2. Generalisasi terlalu luas
Salah nalar jenis ini disebabkan oleh jumlah premis yang mendukung generalisasi tidak seimbang dengan besarnya generalisasi itu sehingga simpulan yang diambil menjadi salah.

3. Pemilihan terbatas pada dua alternatif.
Salah nalar i ni dilandasi oleh penalaran alternatif yang tidak tepat dengan pemilihan “itu” atau “Ini”.

4. Penyebab salah nalar
Salah nalar jenis ini disebabkan oleh kesalahan menilai sesuatu sehingga mengakibatkan terjadi pergeseran maksud. Orang tidak menyadari bahwa yang dikatakannya itu adalah salah.

5. Analogi yang salah.
Salah nalar dapat terjadi apabila orang menganalogikan sesuatu dengan yang lain dengan anggapan persamaan salah satu segi akan memberikan kepastian persamaan pada segi yang lain.

6. Argummentasi bidik orang
Salah nalar jenis ini adalah salah nalar yang disebabkan oleh sikap menghubungkan sifat seseorang dengan tugas yang diembannya. Dengan kata lain, sesuatu itu selalu dihubungkan dengan orangnya.

7. Meniru-niru yang sudah ada
Salah nalar jens ini adalah salah nalar yang berhubungan dengan anggapan bahwa sesuatu itu dapat kita lakukan kalau atasan kita melakukan hal itu.

8. Penyamarataan para ahli
Salah nalar ini disebabkan oleh anggapan orang tentang berbagai ilmu dengan pandangan yang sama. Hal ini mengakibatkan kekeliruan mengambil simpulan.

BAB VIII
PENERAPAN KAIDAH EJAAN

A. PENGERTIAN EJAAN
Ejaan adalah keseluruhan peraturan bagaimana melambangkan buni ujaran dan bagaimana antarhubungan antara lambang-lambang itu (pemisahan dan penggabungan dalam satu bahasa). Secara teknis, yang dimaksud dengan ejaan adalah penulisan huruf, penulisan kata, dan pemakaian tanda baca.

B. DARI EJAAN VAN OPHUIJSEN HINGGA EYD
1. Ejaan van Ophuijsen (1901)
o Pemakaian j seperti: jang, pajah, sajang.
o Pemakaian oe seperti: Oemar, goeru, itoe.
o Tanda diakritik, seperti: koma, ‘ain, dan tanda trema, dipakai untuk menuliskan kata-kata seperti ma’moer, akal, ta’, pa’.

2. Ejaan Seowandi (19 Maret 1947)
o Huruf oe diganti u seperti, guru, itu, umar.
o Bunyi hamzah dan bunyi sentak ditulis dengan k, seperti, tak, pak, maklum, rakjat.
o Kata ulang boleh diitulis dengan angka 2, seperti, anak2, berjalan2, ke-barat2-an.
o Awalan di dan kata depan di ditulis serangkai seperti, dirumah, didepan, ditulis, dikarang.

3. Ejaan Melindo (1959)
Apa akhir tahun 1959 sidang perutusan Indonesia dan Melayu (Slametmulyana-Syeh Nasir bin Ismail, Ketua) menghasilkan konsep ejaan besama yang kemudian dikenal dengan nama Ejaan Melindo (Melayu-Indonesia). Perkembangan politik selama tahun-tahun berikutnya mengurungkan peresmian ejaan itu.

4. Ejaan Bahasa Indonesia yang disempurnakan
Pada tanggal 16 Agustus 1972 Presiden Republik Indonesia meresmikan pemakaian Ejaan Bahasa Indonesia. Peresmian ejaan baru itu berdasarkan Putusan Presiden No. 57, tahun 1972 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan menyebarkan buku kecil yang berjudul Pedoman Ejaan Bahasa Indonesia yang disempurnakan.
Perubahan huruf:
Ejaan Soewandi Ejaan yang disempurnakan
Dj Djalan, djauh Jalan, jauh
J Pajung, laju Payung, layu
Nj Njonja, bunji Nyonya, bunyi
Sj Isjarat, masjarakat Isyarat, masyarakat
Tj Tjukup, tjutji Cukup, cuci
ch Tarich, achir Tarikh, akhir

Huruf-huruf yang telah ditulis sebelumnya, sebagai pinjaman dari bahsa asing
o Maaf, fakir
o Valuta, universitas
o Zeni, lezat
Huruf-huruf q dan x yang lazim digunakan dalam ilmu eksakta tetap dipakai.
o Sinar x
o Al Qur’an
Penulisan di (awalan) di rangkai, di ( kata depan) di pisah
Di (awalan) Di (kata depan)
Ditulis Di kampus
Dibakar Di rumah
Dilempar Di jalan
Dipikirkan Di sini
Ketua Ke desa
Kekasih Ke luar negeri
kehendak Ke atas

Kata ulang ditulis penuh dengan huruf:
Ejaan lama Ejaan yang disempurnakan
Anak2 Anak-anak
Berjalan2 Berjalan-jalan
Meloncat2 Meloncat-loncat

5. Pemakaian Huruf
Berikut pembahasannya: (nama-nama huruf, lafal singkatan dan kata, persukuan, penulisan nama diri).
lafal singkatan kata
singkatan Lafal tidak baku Lafal baku
AC A se A ce
BBC Be be se Be be ce
LNG Al an je El en ge
IUD Ay yu di I u de
TVRI Ti vi er i Te ve er i
MTQ Em te qyu Em te ki
IGGI Ay ji ji ay E ge ge i
Makin Mangkin Makin
Memuaskan Memuasken Memuaskan
Pendidikan Pendidi’an Pendidikan
Memiliki Memili’i Memiliki
Bahu-membahu Bau-membau Bahu-membahu
Pascasarjana Paskasarjana Pascasarjana
logis lohis logis

Persukuan:
kata Bentuk tidak baku Bentuk baku
lain La – in La-in
saat Sa – at Sa-at
kait k- ait Ka-it
main m- ain Ma-in
daun Dau-n Da-un
seret Ser-et Se-ret
masam Mas-am Ma-sam
sepatu Sep-atu Se-patu
bahasa Bah-asa Ba-hasa
Langit Lan-git La-ngit
Masyarakat Mas-yarakat Ma-syarakat
Mutakhir Mutak-hir Muta-khir
Akhirat Ak-hirat Akhi-rat
Maksud Ma-ksud Mak-sud
Langsung Langs-ung Lang-sung
Caplok Ca-plok Cap-lok
Merdeka Merd-eka Mer-deka
Konstruksi Kons-truksi Kon-struksi
Instansi Ins-tansi In-stansi
bangkrut bangkrut Bang-krut
abstrak Abs-trak Ab-strak

Penulisan nama:
o Universitas padjadjaran
o Soepomo Poedjosoedarmo
o Iman Dhourmain
o Dji Sam soe
o Widjojo Nitisastro

6. Penulisan Huruf
a. Penulisan huruf kafital
o Huruf kapital dipakan sebagai huruf pertama
o Huruf kapital dipakai sebagai nama orang, agama, kitab suci, gelar kehormatan, nama pempat, bangsa, suku, bahasa,
o Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari raya, peristiwa bersejarah.
o Huruf kecil digunakan pada: van, ibnu, da, di, de, bin
o Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama khas geografi.
o Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama resmi badan, lembaga pemerintah dan ketata negaraan dan nama dokumentasi resmi
o Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama resmi nama buku, majalah, surat kabar, judul karangan kecuali partikel (di, ke, dari, yang)
o Huruf kapital dipakai sebagai huruf nama gelar/ sapaan, kecuali gelar dokter.

b. Penulisan huruf miring:
o Untuk menuliskan nama buku, majalah, surat kabar yang dikutip dalam karangan.
o Untuk menegaskan atau mengkhususkan huruf, sebagian kata, atau kelompok kata.
o Untuk menuliskan kata nama-nama ilmiah atau ungkapan bahasa asing atau bahasa daerah, kecuali yang disesuaikan ejaannya.

7. Penulisan Kata
Kita mengenal kata dasar, kata turunan, kata berimbuhan, kaga ulang dan gabungan kata. Kata dasar ditulis sebagai satuan yang berdiri sendiri, sedangkan pada kata turunan, imbuhan (awalan, sisipan, atau akhiran) dituliskan serangkai dengan kata dasarnya. Kalau gabungan kata hanya mendapat awalan atau akhiran, awalan atau akhiran itu dituliskan serangkai dengan kata yang bersangkutan saja.
Bentuk tidak baku Bentuk baku
Di didik dididik
Di suruh Disuruh
Di lebur Dilebur
Ke sampingkan Kesampingkan
Hancurleburkan Hancur leburkan
Berterimakasih Berterima kasih
Bertandatangan Bertanda tangan
Beritahukan Beri tahukan
Lipatgandakan Lipat gandakan
Sebarluaskan Sebar luaskan
Menghancur leburkan Menghancurleburkan
Pemberi tahuan Pemberitahuan
Mempertanggung jawabkan Mempertanggungjawabkan
Kesimpang siuran Kesimpangsiuran
Ketidak adilan Ketidakadilan
Dianak tirikan Dianaktirikan
Mengambing hitamkan Mengambinghitamkan
Menyebar luaskan menyebarluaskan

8. Penulisan Unsur Serapan
o Unsur-unsur yang belum sepenuhnya terserap kedalam bahasa Indonesia seperti, resuffle dibaca seperti bahasa asing.
o Unsur bahsa asing disesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia diusahakan hanya diubah seperlunya
o Akhiran yang berasal dari bahasa asing diserap secara utuh (seperti, standarisasi, implementasi, objektif)

9. Pemakaian Tanda Baca.
a. Tanda Titik (.)
o Tanda titik dipakai pada akhir singkatan nama orang.
o Tanda titik dipakai pada singkatan gelar, jabatan. Pangkat
o Tanda titik dipakai pada singkatan atau ungkapan yang sudah umum, yang ditulis dengan huruf kecil. Singkatan yang terdiri dari dua huruf diberi dua buah tanda titik, sedangkan singkatan yang terdiri atas tiga buah huruf atau lebih diberi satu buah tanda titik.
o Tanda titik digunakan pada angka yang menyatakan jumlah untuk memisahkan ribuan, jutaan dan seterusnya.
o Tanda titik tidak digunakan pada singkatan yang terdiri atas huruf-huruf awal kata atau suku kata dan pada singkatan yang dieja seperti kata (akronim)
o Tanda titik tidak digunakan di belakang singkatan lambang kimia, satuan ukuran, takatan, timbangan dan mata uang.
o Tanda titik tidak digunakan di belakang judul yang merupakan kepala karangan, kepala ilustrasi tabel, dan sebagainya.
o Tanda titik tidak digunakan di belakang alamat pengiriman dan tanggal surat serta di belakang nama dan alamat penerima surat.

b. Tanda Koma (,)
o Digunakan di antara unsur-unsur dalam satu pemerincian bilangan.
o Digunakan untuk memisahkan kalimat setara yang satu dengan dari kalimat setara berikutnya yang didahului oleh kata tetapi, melainkan, sedangkan.
o Digunakan untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat apabila anak kalimat tersebut mendahului kalimatnya. Anak kalimat didahului oleh kata penghubung bahwa, karena, agar, sehingga, walaupun, apabila, jika, meskipun dan sebagainya.
o Digunakan dibelakan kata atau ungkapan penghubung antar kalimat yang terdapat pada awal kalimat.
o Digunakan dibelakan kata-kata seperti o, ya, wah, aduh, kasihan.
o Gigunakan untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat.
o Digunakan diantara 1) nama dan alamat, 2) bagian-bagian alamat, 3) tempat dan tanggal, 4) nama tempat dan wilayah atau negeri yang ditulis berurutan.
o Digunakan untuk menceraikan bagian nama yang tidak dibalik susunannya dalam daftar pustaka.
o Digunakan antara nama orang dan gelar akademik yang mengikutinya untuk membedakannya dari songkatan anama keluarga atau marga.
o Digugnakan untuk mengapit keterangan tambahan dan keterangan aposisi.
o Tidak boleh digunakan untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat apabila anak kallimat tersebut mengiringi induk kalimat.

c. Tanda Titik Koma(;)
o Dipakai untuk memisahkan kalimat setara di dalam suatu tugas mejemuk sebagai pengganti kata penghubung.

d. Tanda Titik dua (:)
o Dipakai pada akhir suatu pernyataan lengkap bila diikuti rangkaian atau memerian.
o Tidak dipakai kalau rangkaian atau pemerian itu merupakan pelengkap yang mengakhiri pernyataan.

e. Tanda Hubung (-)
o Dapat dipakai untuk memperjelas hubungan bagian-bagian ungkapan
o Dipakai untuk merangkaikan a) se dengan kata berikutnya, b) ke dengan angka, c) angka dengan –an, d) singkatan huruf kapital dengan imbuhan atau kata.

f. Tanda pisah ( – )
Tanda pisah membatasi penyisipan kata atau kalimat yang memberi penjelasan khusus di luar bangun kalimat, menegaskan adanya aposisi atau keterangan yang alian sehingga kalimat menjadi lebih jelas, dan dipakai di antara dua bilangan atau tanggal yang berarti ‘Sampai dengan’ atau diantara dua nama kota yang berarti ‘ke’ atau ‘sampai’ panjangnya dua ketukan.

g. Tanda Petik Tunggal (‘……’)
Untuk mengapit terjemahan atau penjelasan kata atau ungkapan asing.

h. Tanda Petik (“……”)
Tanda petik dipakai untuk mengapit petikan langsung, judul syair, karangan, istilah yang mempunyai arti khusus atau kurang dikenal

i. Tanda apostrof (‘)
Digunakan untuk menyingkat akata, tanda ini banyak digunakan dalam ragam sastra.

j. Garis Miring
o Untuk menyatakan dan atau, atau.
o Per yang artinya tiap
o Tahun akademik/ tahun ajaran;
o Nomor rumah setelah jalan
o Nomor surat.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: