wayjeparanegriku

Just another WordPress.com site

fikh puasa ramadan

BAB I
PUASA RAMADHAN

A. HUKUM PUASA RAMADHAN
Hukumnya wajib QS 2:183, 185
Sunnah/ hadits: hadist Tholhah bin Ubaidillah disebutkan bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Nabi saw: Ya Rosulullah, katakanlah kepadaku puasa yang diwajibkan Allah atas diriku, Nabi bersabda, Puasa Ramadhan, Tanya laki-laki itu lagi, apakah ada lagi yang wajib atasku? Rasulullah bersabda, tidak kecuali engkau puasa sunnah.

B. KEUTAMAAN BULAN RAMADHAN DAN BERAMAL PADANYA
1. Bulan yang penuh berkah
2. pintu- pintu neraka ditutup
3. pintu syurga dibuka
4. ada sebuah malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan,
5. malaikat berseru,”hai pencinta kebaikan, bergembiralah, dan hai pecinta kejahatan hentikanlah, sampai ramadhan berakhir. (HR. Ahmad, Nasai’)
6. shalat llima waktu, jum’at ke Jum’at, Ramadhan ke Ramadhan berikutnya menghapuskan kesalahan-kesalahan yang terdapat diantaranya masing-masing selama kesalahan besar dijauhi. (HR Muslim)

C. ANCAMAN BAGI YANG BERBUKA DI BULAN RAMADHAN
1. Dari Ibnu Abas R.a. Rasul SAW Bersabda: Ikatan Islam dan sendi agama itu ada tiga, diatasnya didirikan Islam dan siapa yang meninggalkan salah satu di antaranya, berarti ia kafir terhadapnya dan halal darahnya, mengakui bahwa tiada tuahan selain Allah, shalat fardu dan puasa ramadhan (HR. Abu Ya’la dan Dailami).
2. barang siapa berbuka pada satu hari di bulan Ramadhan tanpa keringanan yang dibebankan Allah kepadanya, maka puasanya tidak akan dapat dibayar, meskipun berpuasa sepanjang waktu. (HR Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Tirmidi). Maksudnya tanpa uzur dan sakit.

D. MENETAPKAN BULAN RAMADHAN
• dengan rukyat
• dengan melihat hilal. Hadits: Seseorang yang melihat hilal, maka aku sampaikan kepada Rasulullan saw, bahwa aku telah melihat hilal. Maka Nabi pun berpuasa dan menyuruh kaum muslimin agar berpuasa. (HR. Abu Dawud, Hikam, Ibnu Hibban)
• hadits, dari Abuu Hurairah, bahwa nabi bersabda: “Berpuasalah kamu jika melihatnya dan berbukalah apabila melihatnya! Dan jika terhalang oleh awan, maka cukupkanlah bilangan Sya’ban itu hingga tiga puluh hari,” (HR. Bukhari Muslim)

E. PERBEDAAN TEMPAT TERBIT BULAN
• Apabila penduduk suatu negeri melihat hilal, wajiblah puasa bagi seluruh negeri. Dengan dalil hadits:”berpuasalah apabila melihatnya, dan berbukalah apabila mellihatnya.
• Pendapat suatu negeri tidak berpengaruh kepada pendapat negeri lainnya.

F. ORANG YANG MELIHAT BULAN SENDIRIAN
• Menentukan awal puasa boleh diterimanya kesaksian seorang laki2 yang adil.
• Jika penentuan awal syawal tidak terlihatnya hilal maka bilangan puasa digenapkan menjadi 30 hari.
• Menurut beberapa ulalma, orang yang melihat hilal penentuan awal syawal, sekurang-kurangnya 2 orang.

G. RUKUN PUASA
• Menahan diri dari segala yang membatalkan puasa QS 2: 187
• Berniat, QS 98:5 sebelum fajar pada tiap-tiap bulan Ramadhan
• Boleh diucapkan boleh tidak, karena itu pekerjaan hati,
• Hakikat niat adalah menyegaja suatu perbuatan karena perintah Allah SWT, dan mengharap ridho-Nya.
• Sedangkan niat puasa sunnah, cukup diwaktu siang, berdasarkan hadits dari A’isah:” pada suatu hari Rasul datang kerumah ‘Aisah, Adakah padamu makanan? Jawab kami, tidak. Nabi SAW bersabda, kalau begitu, Akku akan berpuasa. (HR. Muslim dan Abu Dawud)

H. PUASA DIWAJIBKAN KEPADA SIAPA?
• Orang yang baligh
• Orang yang sehat
• Orang yang berakal
• Orang yang beragama Islam
• Puasanya anak-anak . hadits dari Rubai’yi binti Muawwidz,:”Barang siapa yang telah berpuasa dari pagi hari, hendaknya ia meneruskan puasanya, dan siapa yang sejak padi telah berbuka, hendaknya ia memuasakan hari yang ia tinggal. Setelah itu, kami pun berpuasa an kami suruh anak-anak kami yang masih kecil untuk berpuasa. Kami bawa mereka ke masjid. Kammi buatka mereka alat permainan dari bulu domba. Jika ada diantara mereka yang menangis minta makan, kami berikan alat permainan itu. Begitu berlangsung hingga mendekati waktu berbuka.

I. ORANG YANG DIBERI KERINGANAN BERBUKA DAN WAJIB MEMBAYAR FIDYAH
• Orang yang telah tua baik laki2 maupun wanita.
• Orang yang sakit yang tidak ada harapan untuk sembuh,
• Orang yang memiliki pekerjaan berat dan tidak memiliki pekerjaan lain selain yang mereka lakukan.
• Sebagai tebusannya ia wajib memberi makan orang miskin setiap hari. Banyaknya makanan diperkitakan 1 mud.
• Untuk orang tua tdk perlu mengqadla (tidak mengganti)
• Bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin… QS 2:184.
• Bagi ibu hamil dan ibu yang menyusui anak, jika mereka menghawatirkan keselamatan diri dan anak2 merreka, maka mereka boleh berbuka dengan wajib membayar fidyah dan tidak wajib mengqadla (mengganti puasa).
• Jika ibu hamil atau menyusui khawatir akan keselamatan anaknya, padahal ia kuat berpuasa, maka ia wajib mengganti puasa dan membayar fidyah.
• “Sesungguhnya Allah memberi keringanan bagi musafir dalam bepuasa dan separuh shalatnya, sedangkan bagi wanita hamil dan yang menyusui dalam puasa saja.

J. ORANG YANG DIBERI KERINGANAN BERBUKA DAN DIWAJIBKAN MENGQADA
• Bagi musafir
• Orang yang sakit berat, yang apabila berpuasa akan bertambah berat sakitnya.atau akan memperlalmbat kesembuhan.
• Orang yang sehat yang takut akan sakit karena puasa, maka boleh berbuka seperti orang yang sakit
• Oroang yang sangat kelaparan atau kehausan, hingga mungkin celaka, walaupun ia orang yang sehat. QS 4:29, QS 22:78.
• Orang yang sakit berat lalu tetap saja berpuasa maka sah puasanya, namun makruh, karena membahayakan dirinya.

K. MANAKAH YANG LEBIH UTAMA, BERPUASA ATAU BERBUKA
• Imam Abu Hanifah, syafi’I, Maliki bahwa puasa lebih utama bagi yang kuat melakukannya, sedang berbuka lebih utama bagi yang tidak kuat melakukannya.
• Menurut Imam Ahmad berbuka lebih afdal.
• Menurut Umar bin Abdul Azis, yang lebih abdal yang lebih mudah. Namun bila sulit melakukannya pada bulan itu mengzadla (mengganti puasa) di kemudian hari.
• Syaukani berpendapat berbuka lebih utama jika akan mengkhawatirkan keselamatan dirinya, demikian juga pula orang yang khawatir akan ujub riya ketika dalam perjalanan atau sebagainya, lebih baik ia berbuka.
• Hadits Nabi: dari Jabir bin Abdullah:”Rasulullah pergi ke Mekkah tahun Penaklukan. Beliau berpuasa hingga ke pinggir Ghamim dan orang2 ikut berpuasa bersamanya. Lalu ada yang berkata, orang2 merasa payah untuk meneruskan puasa, dan mereka menunggu apa yang akan engkau lakukan. Maka setelah ashar, nabi meminta segelas air, lalu meminumnya, sementara orang2 melihatnya. Sebagian ada yang berbuka, sebagian lagi tetap berpuasa. Maka sampai juga berita kepada Nabi bahwa orang2 itu berpuasa, maka Rasulullah bersabda,”Meraka orang2 durhaka” HR Muslim, an Nasai’, dan Tirmidzi)
• Hadits dari Ubaid bin Jubair,”Pada bulan Ramadhan aku berlayar dengan sebuah kapal bersama deAbu Basrah Al Ghiffari dari kota Fushthath. Tiba2 ditawarkannya dan disajikannya sarapaan paginya ia berkata kepadaku, dekatlah ke sini! Jawabku, Bukannya engkau masih dilingkungan rumah2 rumah? Apakah engkau tidak suka dengan sunnah Rasul” (HR.Ahmad dan Abu Dawud)
• Hadits dari Muhammad bin Kaab:”pada bulan Ramadhan aku mendatangi Anas bin Malik yang rupanya hendak mengadakan perjalanan. Kendaraannya telah siap dan ia telah memakai pakaian musafir. Tiba2 ia minta disediakan makanan, lau maka. Maka tanyaku kepadanya, Apakah ini sunnah? Memang sunnah ujarnya, lalu berangkat dengan kendaraannya. HR Tirmidi.
• Jarak perjalanan untuk seseorang boleh berbuka puasa sepertii jarak seseorang boleh mengqasar shalat. Hadist Nabi:”Apabila Rasulullah bepergian sejauh satu farsakh, atau tiga mil, belliau mengqasar shalat”(HR. Ahmad, Muslim, Abu Dawud, Baihaqi, dari Yahya bin Yajid, said bin Mansur)
• Satu farsakh= 5541 meter, sedangkan satu mil= 1748 Meter.

L. ORANG YANG WAJIB BERBUKA DENGAN MENGQADA
• Wanita2 yang haid dan nifas. Hadits Nabi dari Aisyah:”Kami haid pada masa Rasulullah, maka kami diperintahkan untuk mengqada puasa tetapi tidak diperintahkan untuk mengqada shalat. (HR. Bukhari dan Muslim)

BAB II
HARI-HARI YANG DILARANG BERPUASA

A. LARANGAN BERPUASA PADA KEDUA HARI RAYA
• Hadits dari Umar Ra.”Sesungguhnya Rasulullah, melarang berpuasa pada kedua hari I ni, mengenai Hari Raya Fitri darena hari itu merupakan saat berbukamu dari puasamu (Ramahdan), sedangkan mengenai Hari Raya Adha, agar kamu dapat memakan hasil kurbanmu. (HR. Ahmad, Abu Dawud, Bykhari, Muslim, Tirmidzi, dan Nasa’i)

B. LARANGAN BERPUASA PADA HARI TASYRIQ
• Hari tasyrik yaitu tiga hari berturut-turut setelah Hari Raya Idul Adha. Berdasarkan Hadtst dari Abu Hurairah:”Rasul mengutus Abdullah bin Hudzafah berkeliling Mina untuk menyampaikan, janganlah kamu berpuasa pada hari ini karena ia merupakan hari makan minum, dan mengingat Allah azza wajla.” (HR. Ahmad)
• Menurut sahabat2 iman Syafi’I boleh puasa pada hari tasyrik karena sebab Nazar, kifarat (hukuman)/ denda,atau mengqada (mengganti).

C. LARANGAN PUASA PADA HARI JUMAT SECARA KHUSUS
• Hari Jumat adalah hari raya Kaum Muslimin. Untuk itu dilarang berpuasa, namun larangan tersebut hanya makruh bukan haram. Dibolehkan jika sebelumnya atau sesudahnya (hari Jumat) itu berpuasa pula.
• Hadits Nabi”jangan kamu berpuasa pada Hari Jumat kecuali jika disertai oleh hari sebelum atau sedudahnya”. (HR. Bukhari dan Muslim dari Jabir).
• Hadits Nabi dari Amir Al Asy’ari,” Sesungguhnya hari jumat itu merupakan hari rayamu. Oleh karena itu , janganlah berpuasa pada hari itu, kecuali jika engkau berpuasa sebelum atau sesudahnya.”(HR. Bazzar)

D. LARANGAN PUASA MENGKHUSUSKAN HARI SABTU
• Hadits Nabi dari Busri As Salmi dari saudara perempuannya,:”Janganlah kamu berpuasa pada hari Sabtu, kecuali mengenai yang diwajibkan keatasmu, seandainya seseorang diantara kamu tidak menemukan kecuali kulit anggur atau bungkal kayu, hendaklah mengunyah makanan itu.”(HR. Ahmad, Asy syabus sunan, Hakim)
• Hadits Nabi dariUmu Salamah,”Nabi Lebih banyak melakukan puasa pada hari-hari Sabtu dan MInggu daripada hari2 lainnya, dan sabda beliau, Kedua hari itu merupakan hari besar orang2 musyrik, maka aku inginmenyalahi mereka,” (HR. Ahmad, Baihaqi)

E. LARANGAN PUASA PADA HARI YANG DIRAGUKAN
• Hadits Nabi dari Amr bin Yasir,” Barang siapa yang berpuasa padi hari yang diragukannya berarti ia telah durhaka kekpada Abul Qasim, (Nabi Muhammad). (HR. as syabus sunnan).
• Hadits dari Abu Hurairah,”Janganlah kamu mendahulukan puasa Ramadhan sehari atau dua hari, kecuali jika bertepatan dengan hariyang biasa dipuasakan, maka bolehlah kamu berpuasa pada hari itu. (HR. Jamaah ahli hadits)

F. LARANGAN PUASA SEPANJANG MASA
• Haram hukumnya berpuasa sepanjang tahun tanpa meninggalkan hari-hari yang dilarang olah agama untuk berpuasa. Hadits Nabi,”tidak berarti puasa, orang yang berpuasa sepanjang masa. (HR. Ahmad, Bukhari dan Muslim).
• Menurut Tirmidzi, makruh hukumnya puasa sepanjang masa tanpa menghiraukan hari tasyrik dan kedua hari raya., jika tidak berpuasa pada hari raya dan hari tasyik, maka tidak mengapa.

G. LARANGAN BERPUASA BAGI WANITA YANG SUAMINYA ADA DI RUMAH, KECUALI DENGAN IZINNYA.
• Hadits Nabi dari abu Hurairah,”Janganlah seorang wanita berpuasa walau satu hari pun jika suaminya berada dirumah, tanpa ijinnya, kecuali puasa Ramadhan. (HR. Bukhari Muslim)
• Para ulama memandang larangan ini haram, dan mereka membolehkan suami membatalkan puasa istrinya.
H. LARANGAN WISHAL (NYAMBUNG) DALAM BERPUASA
• Hadits Nabi dari Abu Hurairah,”Jauhilah berwisal (menyambung), beliau mengucapkan kata2 itu sebanyak 3 kali, kata mereka, tetapi engaku berwisal ya Rasulullah, Nabi bbersabda, tettapi kalian tidak sama dalam hal itu denganku, aku bermalam dengan diberi makan minum oleh Tuhanku, Maka lakukanlah amalan itu sekadar sesuai dengan kemampuan kalian.(HR. Bukhari dan Muslim).
• Para fuqoha menganggap larangan itu makruh, tetapi Ahmad, Ishak, dan Ibnu Mundzir membolehkan wishal hingga waktu sahur, selama tidak memberatkan bagi yang berpuasa..

BAB III
PUASA SUNNAH

A. ENAM HARI PADA BULAN SYAWAL
• “Barang siapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan lalu diiringinya dengan enam hari bulan syawwal, maka seolah2 ia telah berpuasa sepanjang.

B. HARI ARAFAH SELAIN ORANG YANG MELAKSANAKAN HAJI
• Puasa pada hari Arofah dapat menghapuskan dosa selama dua tahun, yaitu tahun yang berlalu dan tahun yang akan datang. Dan puasa Asyura mengahapuskan dosa tahun yang lalu.
• Menurut Tirmidzi, para ulama memandang sunnah puasa Arofah, kecuali apabila berada di Arofah, berdasarkan hadits dari Umu Fadl:”Mereka merasa bimbang mengenai puasa Nabi di Arofahh, lalu aku kirimkan susu, maka beliau meminumnya, s edang ketika itu beliau berkhotbah di depan manusia di Arofah.

C. PUASA ASYURA DAN SEHARI SEBELUM DAN SESUDAHNYA
• Abu Hurairah Berkata,”Seseorang bertanya kepada Rasulullah, shalat manakah yang lebih utama setelah shalat fardu? Nabi bersabda shalat di tengah malam. Mereka bertanya lagi? Puasa manakah yang lebih utama setelah puasa Ramadhan? Nabi bertanya,, Puasa pada bulan Allah yang kamu namakan bulan Muharram. (HR. Ahmad, Muslim dan abu Dawud).
• Hari Asyura adalah hari yang dipuasakan oleh orang-2 Quraisy pada masa Jahiliah. Rasulullah juga biasa memuasakannya, dan ketika datan di Madinah, beliau berpuasa pada hari itu dan menyuruh orang2 untuk turut berpuasa. Maka ketika difardukan puasa Ramadhan, beliau bersabda, /siapa yang ingin berpuasa, ia berpuasa, dan siapa yang tidak, ia berbukalah. (kesahihan hadits ini disepakati Bukhari dan Muslim)
• Hari asyura itu dibesarkan oleh orang Yahudi dan mereka menjadikannya sebagai Hari Raya. Maka Rasulullah bersabda, Berpuasalah kamu pada hari itu.
• “seandainya aku ada hingga tahun depan maka aku akan berpuasa pada hari ke sembilan, yakni bersamaan dengan hari Asryura.

D. MERAYAKAN HARI ASYURA
• Hadits dari Jabir, berkata Rasulullah,”Barangsiapa yang memberi kelapangan bagi dirinya dan bagi keluarganya pada hari Asyura, maka Allah akan memberi kelapangan baginya sepanjang tahun itu (HR. Baihaqi dan Asy-Syu’ab diriwayatkan oleh Abdil Barr)

E. BERPUASA PADA SEBAGIAN BULAN SYA’BAN
• Dari ‘aisyah,:Aku tidak pernah menyaksikan Rasulullan berpuasa sebanyak satu bulan penuh melainkan pada saat bulan Ramadhan. Dan aku melihat beliau senantiasa berpuasa pada bulan sya’ban dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya.” (HR. Bukhari, Muslim).

F. BERPUASA PADA BULAN-BULAN SUCI
• Bulan suci seperti bulan Rajab, yaitu berbuasa sehari lalu berbuka, berpuasa sehari lalu berbuka, rasulullah menyuruh nya sampai 3 kali.

G. BERPUASA PADA HARI SENIN DAN KAMIS
• Abu Hurairah Berkata,”Nabi lebih sering berpuasa pada hari senin dan Kamis, lalu ada sahabat yang bertanya, sesungguhnya seluruh amal akan dipersembahkan pada setiap hari senin dan Kamis, lalu allah mengampuni setiap muslim atau setiap orang mukmin kecuali dua orang yang sedang bermusuhan, sebab Allah berfirman, “Tangguhkanlah amal kedua orang itu. (HR. Ahmad dengan sanad yang shahih).

H. BERPUASA PADA SETIAP TENGAH BULAN SELAMA TIGA HARI ( YAUMUL DIB)
• Dari Abu Dzar al ghiffari berkata,” Rasulullah memerintahkan agar berpuasa sebanyak tiga hari pada setiap bulan, aitu apa yang dinamakan dengan hari putih, tanggal ketiga belas, keempat belas, dan hari kelima belas. Nabi bersabda, Itu sama seperti berpuasa sepanjang waktu. (HR Nasai’ dan sishahihkan oleh Ibnu Hibban).

I. PUASA BERSELANG SELING (PUASA DAUD)
• Dari Abdullah bin Amr, telah bersabda Rasulullah:”Puasa yang lebih disukaai oleh allah adalah Puasa Dawud, dan shalat yang disukai adalah shalat dawud. Ia tidur seperdua malam, bangun sepertiganya, lalu tidur seperenamnya, dan ia berpuasa satu hari, dan berbuka satu hari.

J. BOLEH BERBUKA BAGI ORANG YANG BERPUASA SUNNAH
• Dari Ummu Hani, berkata,”Rasulullah masuk kerumahku pada haripenaklukan kota Mekah. Beliau pun disajikan minuman dan meminumnya. Beliau memberikan minuman kepadaku. Aku menjawab, Aku Berpuasa. Nabi bersabda, Orang yang sedang berpuasa sunnah itu menjadi atas dirinya. Jika engkau mau, maka berpuasalah. Jika engkau tidak mau maka berbukalah. (HR. Ahmad, Daruqutni, dan Baihaqi).
• Dari Sa’id al Khudri, berkata:”aku menyiapkan makanan untuk Rasulullah, beliaupun datang kepadaku bersama para sahabat beliau. Ketika makanan telah dihidangkan, salah seorang sahabat Nabi berkata, aku sedang berpuasa. Kemudian Rasulullah bersabda, Saudaramu telah mengundangmu telah mengundangmu makan dan bersusah payah untuk menjamumu. Beliau bersabda lagi, Berbukalah! Dan berpuasalah pada hari yang akan datang sebagai penggantinya jika engkau mau.

BAB IV
ADAB BERPUASA

A. MAKAN SAHUR
• Makan sahur adalah sunah menurut ijma (kekputusan para ulama), tetapi tidak mengapa bila ditingalkan.
• Dari Anas Ra. Bahwa Rasul bersabda:”Makan sahurlah engkau karena makan sahur itu berkah. (HR Bukhari dan Muslim).
1. Tercapainya makan sahur:”Makan sahur itu berkah, maka jangan engkau tinggalkan, walau seorang diantaramu itu hanya meneguk air. Karena Allah dan para malaikat-Nya akan mengucapkan shalawat kepada orang yang bersahur.
2. waktu sahur:”senantiasa dari umatku dalam kebaikan selama menyegerakan berbuka, dan mengudurkan(mengakhirkan sahur).” ,”sahabaat2 Nabi adalah orang-orang yang paling segera berbuka dan paling terlambat sahurnya”.
3. Bimbang tentang terbitnya Fajar:”Makan dan minumlah hingga jelas bagimu perbedaan antara benang putih dan benang merah yaitu fajar….QS 2:187.

B. MENYEGERAKAN BERPUASA
• Dari Sa’ad berkata kepada Nabi:”Umat manusia akan senantiasa berada di dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.”
• Dari Annas Ra. Bahwa Rasulullah biasa berbuka dengan buah kurma basah sebelum mengerjakan shalat. Jika tidak ada, maka beliau berbuka dengan kurma kering. Jika tidak ada juga, maka beliau berbuka dengan beberapa teguk air. (HR. Abu Dawud, Hakim dan Tirmidzi)
• Dari Salman bin Amir berkaata bahwa Nabi bersabda:”Jika salah seorang diantara engkau berpuasa, maka hendaklah ia berbuka dengan kurma. Jika tidak ada, maka bebuka dengan air, karena air itu suci.”
• Dari Anas ra. Berkata bahwa Nabi bersabda:”Jika makanan malam telah dihidangkan, maka makanlah terlebih dahulu sebelum shalat magrib. Janganlah makan malammu itu dibelakangkan!(HR. Bukhari dan Muslim).

C. BERDOA KETIKA BERBUKA DAN KETIKA BERPUASA
• Dari Abdullah bin amr bin Ash bahwa Nabi bersabda:”Sesungguhnya orang yang berpuasa pada saat berbuka, terdapat waktu yang dimakbulkan doa. Dan ketika berbuka, /Abdullah mengucapkan,’Ya Allah, akumohon kepadaMu, dengan rahmatMu yang meliputi segala sesuatu, agar aku Engkaku ampuni).
• Diriwayatkan secara shahi bahwa nabi mengucapkan:”Dahabatdhoma’u wab talatil ‘uruqu watsabatal ajru insya Allah. (Telah lenyap rasa haus dahaga, telah basah urat-urat, dan insya allah ditetapkan pahala.)
• Diriwayatkan secara mursal bahwa nabi biasa berdoa:”Allahumma laka sumtu wabika amantu wa’ala rizkika abtortu (Ya allah, karena-Mu lah aku berpuasa, dan degnan Riski-Mu aku berbuka.
• Diriwayatkan oleh Tirmidzi dengan sanad hasan:”Ada tiga golongan yang tidak ditolak doanya:Orang yang berpuasa hingga ia berbuka, pemimpin yang adil, dan orang yang teraniaya.

D. MENJAUHI HAL-HAL YANG BERTENTANGAN DENGAN PUASA.
• Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi bersabda:”Puasa tidak hanya menahan makan dan minum, tetapi menghindari menjauhi perbuatan sia-sia dan keji. Jika kamu dicaci atau dibodoh-bodohi orang lain, maka katakanlah,”Aku bepuasa. Aku Berpuasa.(HR. Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, Hakim).
• Di riwayatkan oleh jamaah kecuali Muslim, dari Abu Hurairah, bahwa Nabi bersabda:”Barangsiapa yang tidak menghentikan perkataan2 dusta dan melakukan kedustaan itu, maka Allah tidak merasa perlu ia meninggalkan makan dan minum.
• Abu Hurairah meriwayatka:”Berapa banyak orang yang berpuasa tetapi yang titerima hanyalah rasa rapar. Dan berapa banyak orang yang bangun beribadh, tetapi yang diterima tidak lebih hanya terjaganya mata. (HR. Nasai’, Ibnu majah, Hakim, dan shahih menurut syarah Bukhari).

E. MENGGOSOK GIGI
• Menurut Iman Sya’fi’I menggosok gigi baik pagi maupun sore diperbolehkan dan tidak ada perbedaan.
• Nabi sering menggosok gigi pada saat berpuasa telah dibahas pada jilid 1 bab wudhu

F. MURAH HATI DAN MEMPELAJARI AL QUR’AN
• Diriwayatkan oleh Bukhari dari Ibnu Abbas ra.:”Rasulullah adalah orang yang paling dermawan. Sifat dermawan itu lebih menonjol pada bulan Ramadhan, yaitu ketika beliau ditemui oleh Jibril. Biasanya, Jibril menemui beliau pada tiap malan bulan Ramadhan, untuk mempelajari Al Qur’an. Maka Rasulullah lebih murah hati melakukan kebaikan dari pada angina yang tertiup.

G. GIAT BERIBADAH PADA SEPULUH HARI TERAKHIR.
• Menurut riwayat muslim:”Beliau begitu giat beribadah pada puluhan terakhir, melebihi kegiatannya pada saat2 lainnya.

BAB V
HAL-HAL YANG DIPERBOLEHKAN KETIKA BERPUASA

Yang yang diperbolehkan pada saat berpuasa, yaitu:
1. Keluar sperma dan menyelam dalam air. Berdasarkan hadits yang diriwayatkan Abu Bakar bin Abdurrahman dari beberapa sahabat yang bercerita:”Sungguh, Aku telah melihat Rasulullah menimbakan air keatas kepala sewaktu beliau berpuasa karena haus atau kepanasan. (HR. Ahmad, Malik, Abu Dawud, dengan sanad yang shahin)
2. Nabi pada waktu subuh berada dalam keadaan junub, sedang beliau berpuasa, kemudian beliau mandi. Hadits ini diterima dari ‘Aisyah ra.
3. jika kebetulan air masuk kedalam rongga perut orang yang berpuasa tanpa disengaja, maka puasanya tetap sah.
4. memakai celak, atau memasukan / meneteskan obat mata.
5. mencium bagi orang yang sanggup menahan dan menguasai syahwat. Dari Aisyah ra.” Nabi biasa mencium ketika berpuasa dan bersentuhan ketika berpuasa dan beliau adalah orang yang paling mampu menguasai nafsu.
6. hadits dari Umar,” Pada satu hari bangkitlah birahiku, maka aku cium istriku, sedangkan aku berpuasa. Lalu aku temui Nabi, aku berkata, aku telah melakkukan perkara besar, aku mencium padahal aku sedang dalam berpuasa,maka rasulullah berkata, bagaimana pendapatmu, jika engkau berkumur-kumur sedang ketika itu engkau berpuasa? Aku menjawab tidak apa-apa, Rasul bersabda, maka mengapa engkau tanyakan lagi?”
7. suntikan. Baik itu memasukan makanan atau lainnya dan sama halnya apakah kedalam urat atau ke bawah kulit. Walaupun akhirnya yang disuntikan itu sampai juga kedalam perut, tetapi masuknya bukan dari jalan yang biasa.
8. berbekam. Hadits, Tsabit al Bani yant bertanya kepada Annas,”Apakah pada masa
RAsulullah berbekam itu dianggap makruh? Anas berkata, tidak, kecualli jika melemahkan.
9. berkumur-kumur dan memasukan air ke rongga hidung, dengan syarat tidak berlebih-lebihan.
10. juga dibolehkan jika kita tidak bisa menghindarinya, msalnya: menelan air liur, menelan debu jalanan, sisa2 tepung, lender dihidung dll.
11. memamahkan makanan untuk anak bayi/ cucunya dimulut orang yang berpuasa (boleh).
12. menghisap harum-haruman, kemenyann atau minyak wangi lainnya (boleh)
13. puasa merupakan benteng:”Sesungguhnya setan mengalir pada tubuh manusia melalui pembulur2 darah, maka sempitkanlah tempat2 mengalirnya itu dengan lapar dan puasa.
14. Boleh makan dan minun, serta senggama sebelum terbit fajar.
15. dibolehkan orang yang berpuasa dalam keadaaan junub diwaktu subuh, hal ini disebutkan dalam hadits Aisyah.
16. wanita2 haid/ nifas yang nifasnya berhenti diwaktu malam ia boleh berpuasa dan menangguhkan mandi hingga waktu subuh dengan tetap berpuasa.

BAB VI
HAL-HAL YANG MEMBATALKAN PUASA

A.HAL-HAL YANG MEMBATALKAN PUASA DAN WAJIB QADHLA (MNGGANTI)
• Makan dan minum dengan sengaja. Dari Abu Hurairah:”Barangsiapa yang lupa padahal ia sedang berpuasa, lalu ida makan atau minum, hendaknya ia meneruskan puasanya. Karena ia diberi makan dan minum oleh Allah. HR. Jama’ah.
• “barang siapa yang berbuka karena lupa maka ia tidak perlu mengganti atau mengqadla puasanya. Diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Daruqutni, Baihaqi, dan shahih menurut syarah Muslim.
• Muntah dengan sengaja
• Haid atau nifas
• Mengeluarkan mani atau sperma karena melihat, meng angan-angankan wanita.
• Memasukan bahan yang bukan mekanan seperti jalan biasa (banyak memakan garam) hal itu membatalkan puasa.
• Meniatkan berbuka.
• Makan minum dan bersenggama.

B. HAL-HAL YANNG MEMBATALKAN PUASA DAN WAJIB QADA DAN QIFARAT (MEMBAYAR DENDA)
• Orang yang bersenggama disiang hari. Dari Abu Hurairah ra.berkata,”Seorang laki-laki datang mendapatkan Nabi, ia berkata, Celaka aku, wahai Rasulullah! Nabi bertanya, Apa yang mencelakakan itu? Aku menyetubuhi istriku pada bulan Ramadhan. Maka Tanya Nabi, adakah padamu sesuatu untuk memerdekakan budak? Tidak ujarnya.. Nabi bertanya lagi, sanggupkan engkau berpuasa 2 bulan terus menerus? Tidak, ujarnya. Nabi bertanya lagi, apakah engkau memiliki makanan untuk diberikan kepada enam puluh orang miskin? Tidak, ujarnya. Laki-laki itu pun duduk, kemudian dibawwwa orang kepada Nabi satu bakul besar berisi kurma, nah, sedekahkanlah ini! Tidak nabi. Apakah kepada orang yang lebih miskin dari kami? Tanya laki2 itu. Karena didaerah yang terletak diantara tanah yang berbatu-batu hitam itu ada suatu keluarga yang lebih membutuhkannya dari pada kami. Maka Nabipun tertawa hingga geraham beliau terlihat lalu berkata, pergilah, berikan kepada keluargamu! (Hadits Jamaah)
• Orang yang meninggal lalu masih punya tanggungan hutang Puasa. Menurut imam Abu Hanifahh, Maliki, dan Syafi’I, wali dari orang yang meninggal tidak melakukan qadhla puasa maupun shalatnya.
• Menurut golongan /syafi’I, wali (kerabat),, boleh menggantikan puasa agar terbebas dari kewajiban.
• Jika yang menggantikan puasa itu orang lain maka sah hukumnya setelah mendapat izin dari wali.
• Ukuran bagi wilayah yang malamnya lebih pendek dan siangnya lebih panjang adalah, para fuqoha berbeda pendapat. ada yang bolehh berpedoman pada Mekah atau Madinah, ada golongan yang berpendapat boleh berpedoman kepada negeri-negeri tetangganya.

BAB VII
LAILATUL QODAR

A. KEUTAMAAN
• Suatu malam yang lebih baik dari pada seribu bulan QS 97:1-3.
• Beramallah pada malam itu dengan zikir, doa dan shalat serta membaca Al Qur’an.

B. SUNNAH MENUNGGUNYA
• Nabi giat mencari malam tersebut dengan beramal lebih baik dari malam2 lainnya. Membangunkan keluarganya.

C. PADA MALAM APAKAN JATUHNYA?
• Ada yang berpendapat jatuhnya pada malam2 ganjil dan berpindah2 setiap tahunnya.
• Diriwayatkan dari iman Ahmad dari ibnu Umar,”Barang siapa mencarinya, hendaklah dicari pada malam kedua puluh tujuh,”
• Dari Ubay bin Ka’ab diriwayatkan oleh Muslim, Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi,”demi Allah yang tiada Tuhan melainkan Dia. Sesungguhnya ia terjadi di dalam bulan Ramdhan. Ia bersumpah dan menentukan kepastian tanpa mengucapkan Insya Allah. Demi Allah. Sesungguhnya aku mengetahui malalm apa terjadinya, tiada lain dari malalm ketika kita diperintahkan Nabi untuk berjaga-jaga beribadah, yakni malam kedua puluh tujuh. Dan sebagai tandanya adalah pada pagi harinya matahari terbit dengan cahaya putih tidak bersinar-sinar.

D. BERIBADAH DAN BERDOA PADA MALAM ITU
• Dari Abu Hurairah ra.:”barangsiapa yang beribadah pada malam Qadar karena Iman dan mengharapkan keridoan Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang terdahulu,” (HR Bukhari dan Muslim)
• Dari Aisyah ra. Diriwayatkan oleh Ahmad, Ibnu Majah, Tirmidi,”Aku bertanya, Ya Rasulullah, bagaimana pendapat engkau seandainya aku tahu malam jatuhnya Laitatul Qadar itu, apakah yang harus aku ucapkan waktu itu? Maka nabi bersabda, Katakanlah, Ya allah. Sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan suka memaafkan, maka maafkanlah diriku,”

BAB VIII
I’TIKAF

A. MAKSUD I’TIKAF
• Menetap dan tinggal di masjid dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah.

B. PENSYARIATAN I’TIKAF
• Para ulama berijma’ bahwa I’tikaf disyariatkan agama. Nabi beri’tikaf dibulan ramadah pada sepuluh hari terakhir.

C. MACAM-MACAM I’TIKAF
• I’tikaf sunnah yaitu dilakukan seseorang dengan sukarela semata2 mengikuti sunnah Nabi, I’tikaf semacam ini lebih umata.
• I’tikaf wajib yaitu dilakukan seseorang karena menjadi kewajiban, misalnya nazar.

D. WAKTU I’TIKAF
• I’tikaf nazar dilaksanakan sesuai dengan janjinya, itikaf sunnah tidak terbatas waktunya.

E. SYARAT-SYARAT I’TIKAF
• Orang muslim, mumayyiz (baligh), suci dari junnub, haid dan nifas.

F. RUKUN-RUKUN I’TIKAF
• Itikaf hanya sah dilakukan di dalam mesjid, niat, dan tidak mencampuri istri.

G. PENDAPAT FUQOHA MENGENAI MASJID YANG SAH DIGUNAKAN I’TIKAF
“ Setiap masjid yang mempunyai muazin dan imam, boleh dilakukan I’tikaf.”(HR. Daruqutni)

H. PUASA WAKTU BERI’ITIKAF
• Ya, Rasulullah, pada masa jahiliah aku telah bernazar akan ber’itikaf selama satu malam.” Ujar Nabi bersabda, “Penuhilah nazarmu itu!” (diriwayatkan oleh Bukhari dari Ibnu Umar)

I. WAKTU PERMUALAAN DAN AKHIR I’TIKAF
• I’tikaf sunnah tidak terbatas waktunya, apabila seseorang telah datang ke masjid dengan bertaqarub (niat mendekatkan diri ) kepada Allah, maka ia telah beri’tikaf, hingga ia keluar.
• Di riwayatkan oleh Bukhari dari Abu Sa’id:”Barang yang hendak beri’tikaf bersamaku, hendaklah ia melakukannya pada sepuluh hari terakhir.”

J. HAL-HAL YANG SUNNAH DAN MAKRUH BAGI ORANG YANG BERI’TIKAF
• Sunnah untuk memperbanyak ibadah-ibadah2 sunnah, dan menyibukkan dengan shalat, membaca Al qur’an, tasbh,, tahmid, tahlil, takbir, istigfar, berdoa, membaca shalawat, atau yang lainnya yang menghubungkan manusia dengan Sang Pencipta.
• Salah satu tanda baiknya keislaman seseorang adalah meninggalkan hal-hal yang tidak berguna. (HR. Ibnu Majah, Tirmidzi, dari Abu Basrah)

K. HAL-HAL YANG DIPERBOLEHKAN WAKTU BERI’TIKAF
• Keluar tempat I’tikaf untuk mengantar keluarga
• Menyisir rambut, memotong kuku, memangsas rambut, membersihkan tubuh dari debu dan kotoran, memakai pakaian terbaik dan mengenakan wangi-wangian.
• Keluar untuk satu keperluan yang tidak dapat dielakkan.
• Ia boleh makan, minum dan tidur di tempat I’tikap asal menjaga kebersihan.

L. HAL-HAL YANG MEMBATALKAN I’TIKAF
• Sengaja keluar masjid, tanpa ada keperluan walau sebentar.
• Murtad/ keluar dari Islam.
• Kehilangan akal, haid, serta nifas
• Bersenggama,

M. MENGQADA I’TIKAF
• Barang siapa yang telah melakukan I’tikap secara suka rela, kemudian ia menghentikannya, maka ia disunahkan mengqada. Ada pula yang mengatakan wajib.
• Seandainya seseorang yang mempunyai hutang mengganti / mengqada I’tikaf meninggal dunia sebelum mengqada, maka ia tidak kperlu qada. Namun menurut Ahmad, wajib atas walinya untuk menggantikannya dengan cara mengqada.

N. HENDAKLAH ORANG YANG BERI’TIKAF MENEMPATI SUATU TEMPAT DIDALAM MASJID DAN MEMBERIKAN TANDA.
• Ibnu umar mengatakan,”Rasulullah biasa beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir dari bulan ramadhan. (HR. Ibnu Majah)
• Dari Ibnuu Umar,”Jika Rasulullah beri’tikaf beliau menghamparkan kasur aau meletakkan tempat tidur dibelakan tonggak tobat.”

O. BERNAZAR UNTUK I’TIKAF DI MASJID TERTENTU
• Barang siapa yang bernazar ber’itikaf di Masjidil Haram, masjidil Aqso, masjid Nabawi, maka ia wajjib melaksanakannya.
• :”Tidak perlu disiapkan kendaraan kecuali menuju tiga masjid, Masjidil Haram, Masjilil Aqsa, Masjidkku ini (Nabawi).
• Bernazar untuk beri’tikaf dimasjid lain selain ketiga masjid diatas adalah tidak ditetapkan syariatnya oleh Allah, kecuali bernazar untuk beri’tikaf di Ketiga masjid itu.

“Shalat di dalam masjidku ini lebih utama daripada seribu kali shalat di masjid-masjid lainnya, kecuali di Masjidil Haram. Dan shalat di Masjidil-Haram itu lebih utama daripada shalat di masjidku sebanyak seratus kali.”

Jika seseorang telah bernazar I’tikaf di Masjid Nabawi, ia boleh memenuhi nazarnya di Masjidil Haram, karena masjid itu lebih utama dari pada Masjid Nabawi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: