wayjeparanegriku

Just another WordPress.com site

Kiat Sukses Menghafal Al Qur’an

KITA SUKSES MENGHAFAL AL QUR’AN
Karangan: Abdul Aziz Abdur Rauf, Al Hafidz Lc.

BAB I
MUQADIMAH

Mengapa Al Qur’an harus dihafal?
1. Para penghafal Al Quran adalah orang yang dipilih oleh Allah (Kemudian kita itu Kami wariskan kepada orang –orang yang kami pilih diantara hamba-hamba Kami…)
2. Al Qur’an adalah kitab yang dijaga kemurniannya oleh Allah (Sesungguhnya telah kami turunkan Adz Dzikir (Al Qur’an) dan kamilah yang menjaganya QS 59:9)
3. Alqur’an adalah pedoman hidup bagi seluruh manusia.QS2:185, QS 10:108
       ••                                        
185. (beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.

  ••              •         
108. Katakanlah: “Hai manusia, Sesungguhnya teIah datang kepadamu kebenaran (Al Quran) dari Tuhanmu, sebab itu barangsiapa yang mendapat petunjuk Maka Sesungguhnya (petunjuk itu) untuk kebaikan dirinya sendiri. dan barangsiapa yang sesat, Maka Sesungguhnya kesesatannya itu mencelakakan dirinya sendiri. dan Aku bukanlah seorang Penjaga terhadap dirimu”.

4. Al qur’an adalah ruh bagi orang yang beriman QS 42:52, QS 63:4
                 •            
52. Dan Demikianlah kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran) dengan perintah kami. sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba kami. dan Sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.

           •  •   •             
4. Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. dan jika mereka Berkata kamu mendengarkan perkataan mereka. mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar[1477]. mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka. mereka Itulah musuh (yang sebenarnya) Maka waspadalah terhadap mereka; semoga Allah membinasakan mereka. bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran)?

[1477] mereka diumpamakan seperti kayu yang tersandar, maksudnya untuk menyatakan sifat mereka yang buruk meskipun tubuh mereka bagus-bagus dan mereka pandai berbicara, akan tetapi Sebenarnya otak mereka adalah kosong tak dapat memahami kebenaran.

Kayu yang tersandar artinya tidak memberikan manfaat untuk kehidupan manusia. Itulah sifat orang munafik bagi kehidupan manusia.

5. Al qur’an itu sebagai adz dzikir (peringatan) QS 21:50, QS 36:59, QS 50:45
        
50. Dan Al Quran Ini adalah suatu Kitab (peringatan) yang mempunyai berkah yang Telah kami turunkan. Maka mengapakah kamu mengingkarinya?

    
59. Dan (Dikatakan kepada orang-orang kafir): “Berpisahlah kamu (dari orang-orang mukmin) pada hari ini, Hai orang-orang yang berbuat jahat.

               
45. Kami lebih mengetahui tentang apa yang mereka katakan, dan kamu sekali- kali bukanlah seorang pemaksa terhadap mereka. Maka beri peringatanlah dengan Al Quran orang yang takut dengan ancaman-Ku.

6. Al Qur’an adalah sumber ilmu pengetahuan alam. QS 5: 20

                •      
20. Dan (Ingatlah) ketika Musa Berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, ingatlah nikmat Allah atasmu ketika dia mengangkat nabi nabi diantaramu, dan dijadikan-Nya kamu orang-orang merdeka, dan diberikan-Nya kepadamu apa yang belum pernah diberikan-Nya kepada seorangpun diantara umat-umat yang lain”.

Dalam hadis diterangkan:
“Sesungguhnya Allah mengangkat d er ajat dengan Al Quru’an ini beberapa kaum dan merendahkan dengan kaum yang lain (HR. Muslim)

7. Hifdzul Qur’an adalah dakwah yang doruri (darurat)
Dalam hadis diterangkan:”Belajarlah Al Qur’an dari empat orang: Abdullah bin Mas’ud, Salim Maula Abi Hudzaifah, Muadz bin Jaabal, dan Ubay bin Ka’ab.

BAB II
URGENSI HIFDZUl QUR’AN

Para ulama mengatakan:
Maa laa yatim mul waa jibu illaa bihi fahuwa waa jabu:”Segala kewajiban yang tidak akan sempurna kecuali dengan melakukan suatu pekerjaan, maka pekerjaan itu wajib dilakukan.”

1. Menjaga kemutawatiran al qur’an (banyak orang yang meriwayatkan/ menurut banyak orang)
Apa yang dimaksud muatawatiir? Ulama mengatakan:”Sesutu yang diriwayatkan orang banyak, sehingga mustahil biasanya mereka bersatu dalam kedustaan.” Contoh mustahil kalau letak Ka’bah itu di Mesir karena secara Mutawatir.

2. Meningkatkan kualitas umat.
• Kejayaan umat QS 21:10
         
10. Sesungguhnya Telah kami turunkan kepada kamu sebuah Kitab yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu. Maka apakah kamu tiada memahaminya?

• Petunjuk QS 2: 1-5
                                           
1. Alif laam miin[10].
2. Kitab[11] (Al Quran) Ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa[12],
3. (yaitu) mereka yang beriman[13] kepada yang ghaib[14], yang mendirikan shalat[15], dan menafkahkan sebahagian rezki[16] yang kami anugerahkan kepada mereka.
4. Dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Quran) yang Telah diturunkan kepadamu dan kitab-kitab yang Telah diturunkan sebelummu[17], serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat[18].
5. Mereka Itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung[19].

[10] ialah huruf-huruf abjad yang terletak pada permulaan sebagian dari surat-surat Al Quran seperti: Alif laam miim, Alif laam raa, Alif laam miim shaad dan sebagainya. diantara ahli-ahli tafsir ada yang menyerahkan pengertiannya kepada Allah Karena dipandang termasuk ayat-ayat mutasyaabihaat, dan ada pula yang menafsirkannya. golongan yang menafsirkannya ada yang memandangnya sebagai nama surat, dan ada pula yang berpendapat bahwa huruf-huruf abjad itu gunanya untuk menarik perhatian para Pendengar supaya memperhatikan Al Quran itu, dan untuk mengisyaratkan bahwa Al Quran itu diturunkan dari Allah dalam bahasa Arab yang tersusun dari huruf-huruf abjad. kalau mereka tidak percaya bahwa Al Quran diturunkan dari Allah dan Hanya buatan Muhammad s.a.w. semata-mata, Maka cobalah mereka buat semacam Al Quran itu.
[11] Tuhan menamakan Al Quran dengan Al Kitab yang di sini berarti yang ditulis, sebagai isyarat bahwa Al Quran diperintahkan untuk ditulis.
[12] takwa yaitu memelihara diri dari siksaan Allah dengan mengikuti segala perintah-perintah-Nya; dan menjauhi segala larangan-larangan-Nya; tidak cukup diartikan dengan takut saja.
[13] Iman ialah kepercayaan yang teguh yang disertai dengan ketundukan dan penyerahan jiwa. tanda-tanda adanya iman ialah mengerjakan apa yang dikehendaki oleh iman itu.
[14] yang ghaib ialah yang tak dapat ditangkap oleh pancaindera. percaya kepada yang ghjaib yaitu, mengi’tikadkan adanya sesuatu yang maujud yang tidak dapat ditangkap oleh pancaindera, Karena ada dalil yang menunjukkan kepada adanya, seperti: adanya Allah, malaikat-malaikat, hari akhirat dan sebagainya.
[15] Shalat menurut bahasa ‘Arab: doa. menurut istilah syara’ ialah ibadat yang sudah dikenal, yang dimulai dengan takbir dan disudahi dengan salam, yang dikerjakan untuk membuktikan pengabdian dan kerendahan diri kepada Allah. mendirikan shalat ialah menunaikannya dengan teratur, dengan melangkapi syarat-syarat, rukun-rukun dan adab-adabnya, baik yang lahir ataupun yang batin, seperti khusu’, memperhatikan apa yang dibaca dan sebagainya.
[16] Rezki: segala yang dapat diambil manfaatnya. menafkahkan sebagian rezki, ialah memberikan sebagian dari harta yang Telah direzkikan oleh Tuhan kepada orang-orang yang disyari’atkan oleh agama memberinya, seperti orang-orang fakir, orang-orang miskin, kaum kerabat, anak-anak yatim dan lain-lain.
[17] Kitab-kitab yang Telah diturunkan sebelum Muhammad s.a.w. ialah kitab-kitab yang diturunkan sebelum Al Quran seperti: Taurat, Zabur, Injil dan Shuhuf-Shuhuf yang tersebut dalam Al Quran yang diturunkan kepada para rasul. Allah menurunkan Kitab kepada Rasul ialah dengan memberikan wahyu kepada Jibril a.s., lalu Jibril menyampaikannya kepada rasul.
[18] Yakin ialah kepercayaan yang Kuat dengan tidak dicampuri keraguan sedikitpun. akhirat lawan dunia. kehidupan akhirat ialah kehidupan sesudah dunia berakhir. yakin akan adanya kehidupan akhirat ialah benar-benar percaya akan adanya kehidupan sesudah dunia berakhir.
[19] ialah orang-orang yang mendapat apa-apa yang dimohonkannya kepada Allah sesudah mengusahakannya.

• Mudah untuk dipelajari, dihafal dan di tadaburkan QS 54: 17, 22, 32, 40
       
17. Dan Sesungguhnya Telah kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, Maka Adakah orang yang mengambil pelajaran?

       
22. Dan Sesungguhnya Telah kami mudahkan Al Quran untuk pelajaran, Maka Adakah orang yang mengambil pelajaran?

       
32. Dan Sesungguhnya Telah kami mudahkan Al Quran untuk pelajaran, Maka Adakah orang yang mengambil pelajaran?

       
40. Dan Sesungguhnya Telah kami mudahkan Al Quran untuk pelajaran, Maka Adakah orang yang mengambil pelajaran?

3. Menjaga terlaksananya sunnah-sunnah Rasulullah
Dalam hadis dijelakan:”Sesungguhnya panjang shalat seseorang dan pendek khutbahnya merupakan tanda kefahaman diennya.” (HR. Muslim).

4. Menjauhkan mukmin dari aktivitas laghwu (tidak ada nilainya disisi Allah)
• QS 28: 55
               
55. Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling daripadanya dan mereka berkata: “Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu, kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang jahil”.

• QS 23:1, 2 3
               
1. Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman,
2. (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam sembahyangnya,
3. Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna,
• QS 79:46
•         
46. Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) di waktu sore atau pagi hari[1553].

[1553] Karena hebatnya suasana hari berbangkit itu mereka merasa bahwa hidup di dunia adalah sebentar saja.

5. Melestarikan budaya salafus shalih
• Orang-orang dulu adalah penghafal Al qur’an
• Orang-orang dulu itu khusu’, jika shalat bacaannya panjang-panjang.
• Orang-orang dulu bukan hanya menghafal tapi diimplementasikan dalam kehidupAN.

Langkah-langkah yang perlu kita lakukan untuk kembali menghidupkan Al Qur’an:
1. Menanamkan rasa cinta tilawah sehingga menjadi kebiasaan
2. Menggalakkan pendirian lembaga-lembaga Al Qur’an
3. Menggalakkan acara-acara yang berkaitan dengan Al Qur’an (seperti tasmi/ simakan al qur’an, musabaqoh tilawatil qur’an, qiyamul lail)
4. memberikan metovasi terus menerus kepada mereka yang memiliki bakat dan semangat yang kuat untuk menghafal Al Qur’an (misalnya beasiswa, hadiah-hadiah).

Keuntungan2 yang dirasakan jaman dulu berkat menghafal Al Qur’an:
1. Dakwah dimasyarakat cepat berkembang (menjauhkan akibat-akibat negatif seperti salah faham di masyarakat).
2. Meningkatkan kualitas ulama masa yang akan datan
3. Mengakrabkan Al Qur’an di masyarakat, akan lebih kongrit janji2 Allah bahwa al qur’an itu mudah dipelajari, dihafal.
4. Dengan banyaknya penghafal Al Qur’an semakin meramaikan masjid2 Allah, menjadi imam-iman yang menggetarkan kalbu hingga shalat semakin khusus’
5. Terbentuknya kesadaran yang merata ditengah2 masyarakat, menjadi Manhajul Hayah yakni penyelamat bagi kehidupannya.

BAB III
FADHAIL HIFDZUL QUR’AN
(KEUTAMAAN-KEUTAMAAN MENGHAFAL AL QUR’AN)

Al Qur’an adalah bacaan yang sangat mulia, didalam kitab yang terpelihara (lauh mahfudz) QS 56: 77,78
      • 
77. Sesungguhnya Al-Quran Ini adalah bacaan yang sangat mulia,
78. Pada Kitab yang terpelihara (Lauhul Mahfuzh),

A. FADHAIL DI DUNIA

1. Hifdzul qur’an merupakan nikmat Allah.
• Rasul hanya mengajarkan kepada kita untuk iri (ghiroh) terhadap ahlul quran:
“Tidak boleh seseorang berkeinginan kecuali dalam dua perkara, menginginkan seseorang yang diajarkan oleh Allah kepadanya Al qur’an, kemudian ia membacanya sepanjang malam dan siang, sehingga tetangganya mendengar bacaannya, kemudian berkata,”andaikata aku diberi sebagaimana si fulan diberi, sehingga aku dapapt sebagaimana si fulan berbuat,”Dan menginginkan seseorang yang diberi harta oleh Allah, kemudian ia mempergunakannya dalam kebenaran, maka berkatalah orang yang lain, Andaikata aku diberi sebagaimana yang diberikan kepada si fulan, sehingga aku dapat melakukan sebagaimana ia lakukan.’ (HR. Bukhari).

• Hafalan Al Qur’an boleh dijadikan sebagai mas kawin:
“Telah datang seseorang perempuan kepada Nabi, maka ia berkata,”Sesungguhnya ia telah menyerahkan dirinya kepada Allah dan Rasul-Nya,” “Aku tidak butuh wanita.”Kata Nabi. Sementara sahabat lain berkata,”Kawinkan saja dengan saya,”Kata Nabi,”Berikan saja maskawinnya berupa baji? Orang itu menjawab,”Aku tidak punya.” “Berikan saja mas kawin walau dengan cincin besi.”Pinta Nabi lagi. Namun orang itu masih beralasan tidak punya. Akhirnya nabi bertanya,” Surat apa yang kamu hafal?”Aku hafal surat ini….”Jawab orang itu. Maka nabi bersabda,”Aku kawinkan kau dengannya dengan apa yang kamu hafal dari Al Qur’an. (Mutafaqun ‘alaih).

• Menghafal Al qur’an disamakan dengan nikmat kenabian, bedanya seorang penghafal tidak mendapatkan wahyu. Sesuai dengan hadis berikut:
“Barang siapa yang hafal/ membaca Al Quran, maka sungguh dirinya telah memiliki derajat kanabian, hanya saja tidak diwahyukan kepadanyal tidak pantas bagi para hafidz qur’an berada sama siapa saja yang di dapati dan tidak melakukan kebodohan terhadap orang yang melakukan kebodohan (selektif dalam bergaul) sementara dalam dirinya terdapat firman Allah.” (HR. Hakim).

2. Al Qur’an menjanjikan kebaikan, berkah dan kenikmatan bagi penghafalnya.
• Pekerjaan yang paling baik: “ Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari dan mengajarkan Al Qur’an.” (HR. Bukhari dan Muslim).
• Ukuran keindahan kepribadiannya: “Sesungguhnya orang yang didalam dadaya tidak terdapat Al Qur’an bagaikan rumah yang tidak berpenghuni.” (HR. At Turmudzi).

3. Seorang yang Hafidz qur’an adalah orang yang mendapatkan tasyrif Nabawi (Penghargaan khusus dari nabi saw)
• Perhatian khusus dari nabi terhadap para syudaha Uhud:”Nabi Mengumpulkan dua orang syuhada Uhud, kemudian beliau bersabda,”Manakan diantara keduanya yang lebih banyak hafal Al Qu’an. Ketika ditunjuk kepada salah satunya, maka beliau mendahulukan pemakamannya di liang lahat. (HR. Bukhari).
• Nabi mengangkat penghafal al Qur’an sebagai pemimpin: dari Abu Hurairah ia berkata, “Telah Mengutus Rasulullah saw sebuah delegasi yang banyak jumlahnya, kemudian Rasul mengetes hafalan mereka, kemudian satu persatu disuruh membaca apa yang sudah dihafal, maka sampailah pada sahabat yang paling muda usianya, beliau bertanya,”Surat apa yang kau hafal? Ia menjawab,”Aku hafal surat ini…. Dan surat ini….. dan surat Al Baqarah.”Benarkan kamu hafal surat Al Baqarah? Tanya nabi lagi. Sahabat itu menjawab, “Benar”. Nabi bersabda,”Berangkatlah kamu dan kamulah pemimpin delegasi.” (HR. At Turmudzi dan Nasai).
• Rasulullah menetapkan penghafal Al Qur’an sebagai imam shalat:”Yang menjadi imam suatu kaum adalah yang paling banyak hafalannya.” (HR. Muslim)

4. Hifdzul Qur’an merupakan ciri-ciri orang yang diberi ilmu.
• “Sebenarnya Al Qur’an itu adalah ayat-ayat yang nyata bagi orang-orang yang diberi iilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat kami kecuali orang-orang yang dzalim. QS 29:49.
• Seorang penyair mengatakan:”Bukanlah ilmu itu apa yang masih berada dalam kitab dan buku, yang dinamakan ilmu adalah yang ada didalam dada laki-laki yang kesatria.”
• Menghafal Al Qur’an merupakan upaya menjadikan ayat-ayat Allah sebagai ilmu yang dapat dinikmati. Para ulama mengatakan:”Pertama kali, ilmu itu didapatkan(diperhatikan) dengan cara mendengar, kemudian diam, kemudian dihafal, diamalkan, dan diajarkan (Hilyatul Auliyai 7/274).

5. Hifdzul qur’an adalah keluarga Allah yang ada diatas bumi.
“Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga diantara manusia para sahabat bertanya,”Siapakan mereka ya Rasulullah? Rasul menjawab,”Para Ahli Qur’an dam merekalah keluarga Allah dan pilihan-pilihan-Nya.” (HR. Ahmad).

6. Menghormati seorang hafidz Qur’an berarti mengagungkan Allah
“Sesungguhnya termasuk mengangungkan Allah menghormati orang tua yang muslim, penghafal qur’an yang tidak melampaui batas (didalam mengamalkan dan memahaminya) dan tidak menjauhinya (enggan membaca dan mengamalkannya) dan penguasa yang adil.” (HR. Abu Dawud).

B. FADHAIL DI AKHIRAT
1. Al Qur’an menjadi penolong (syafaat) bagi para penghafalnya: Dari Abu Umamah ra. Ia bberkata,” Aku mendengar Rasulullah saw bersabda,”Bacalah olehmu Al Qur’an, sesungguhnya ia akan menjadi pemberi syafaat pada hari kiamat bagi para pembacanya (penghafalnya).
Hadis yang lain:
Dari Abu Umamah ia berkata, Aku mendengar Rasulullah ia berkata,”Bacalah olehmu Al Quran ia akan menjadi pemberi syafaat bagi pembacanya pada hari kiamat. Bacalah azzahrawain (al baqarah dan ali Imran) karena sesungguhnya keduanya akan datang pada hari kiamat bagaikan dua awan, atau bagaikan dua burung yang terbang yang akan membela pembacanya pada hari kiamat. Kemudian ia bersabda lagi,”Bacalah surat Al Baqarah karena sesungguhnya di dalam mengamalkannya terdapat berkah, meninggalkannya adalah penyesalan dan surat itu dijadikan para penyihir tidak mampu melakukan sihirnya. (HR Ahmad dan Muslim).

dalam hadis lain dijelaskan:
“Puasa dan Al Qur’an akan memberi syafaat kepada seseorang hamba pada hari kiamat, badah puasa itu akan berkata:”Ya Allah aku telah mencegahnya dari makan dan syahwat pada siang hari, maka izinkanlah aku memberi syafaat kepadanya.” Dan all Qur’an berkata,” Aku telah mencegahnya tidur pada malam hari, maka izinkanlah aku memberinya syafaat.” (HR. Ahmad).

2. Mengafal al qur’an berarti meninggikan derajat manusia di surga.
Dari Abdillah bin Amr bin Ash dari nabi saw, beliau bersabda:”Akan dikatakan kepada shahibul qur’an,”Bacalah da naiklah serta tartilkan sebagaiana engkau dulu mentartilkan Al Qur’an di dunia. Sesungguhnya kedudukanmu di akhir ayat yang kau baca.” (HR. Abu Dawud dan Turmudzi).

3. Para penghafal Al Qur;an bersama para malaikat yang mulia dan taat
Dari ‘Aisyah Ra. Ia berkata,”Rasulullah bersabda:”Orang yang membaca Al Qur’an sedangkan ia mahir bersama para maliakat yang mulia dan taat, dan orang yang membaca Al Qur’an sedang ia terbata-bata maka ia mendapat dua pahala.” (Mutafaqun alaih)
“Dan perumpamaan orang yang membaca Al Qur’an sedankan ia hafal ayat-ayatnya bersama para malaikat yang mulia dan taat.” (Mutafaqun ‘alaih)

4. Bagi para penghafal Al Qur’an kehormatan berupa tajul karamah (Mahkota Kemuliaan)
“Mereka akan dipanggil,”Dimana orang-orang yang tidak terlena oleh mengembala kambing dari membaca kitabku? Maka berdirilah mereka akan dipakaikan kepada salah seorang mereka mahkota kemuliaan. Diberikan kepadanya kesuksesan dengan tangan kanan dan kekekalan dengan tangan kirinya. Jika kedua orang tuanya seorang muslim, maka keduanya akan diberi pakaian yang lebih bagus dari dunia dan seisinya. Kedua orang tuanya akan mengatakan,”Bagaimana kami bisa mendapatkan ini?”Maka akan dijawab,”ini karena anakmu berdua membaca Al Qur’an.” (HR. Attabrani).

5. Penghafal Al Qur’an bagaikan pedagang yang selalu beruntung.
“Sesungguhnya orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian rizki yang Kami anegerahkan kepada mereka yang diam-diam dan terang-terangan, mereka itu menghafapkan perniagaan yang tidak merugi. Agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala dan menambah kepada mereka karunianya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan Maha Mensyukuri.” QS 35: 29-30.

6. Para penghafal Al Qur’an adalah orang yang paling banyak mendapatkan pahala dari al Qur’an.
“Barang siapa yang membaca satu huruf dari Al Qur’an maka baginya satu hasanah (kebaikan), dan hasanah itu dilipatgandakan sepuluh kali. Aku tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf, namun alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf.” (HR. At Turmudzi)

“Barang siapa yang membaca al Qur’an dalam keadaan berdiri saat shalat, baginya 100 hasanah (kebaikan), barang siapa yang membacanya sambil duduk dalam shalat maka baginya 50 hasanah, barang siapa yang membacanya diluar shalat dalam keadaan berwudhu baginya 25 hasanah, dan barang siapa membacanya tanpa wudhu baginya hasanah. (Ihya Ulumuddin: Al Ghozali)

“Barang siapa yang membaca Al Qur’an (hafal), kemudian ia melihat atau merasa bahwa orang lain telah diberi sesuatu yang lebih utama daripada apa yang ia dapatkan (berupa hafal Qur’an) sungguh ia adalah orang yang telah mengagungkan sesuatu yang telah diremehkan Allah dan meremehkan sesuatu yang telah diagungkan oleh Allah.” (HR At Thabrani).

Fadilah: keutamaan-keutamaan lainnya yakni tidak akan pikun, akalnya selalu sehat, akan dapat memberikan syafaat kepada seluruh keluarganya, serta orang yang paling kaya, doanya selalu dikabulkan. Dan pembawa panji2 Islam. Semuanya disebut dalam hadis daif. (namun sudah dtemukan di dalam otak, bahwa perolehan informasi baru yang tersimpan didalam otak, sehingga otak membentuk jaringan-jaringan baru dan akan semakin kuat. Tetapi sebaliknya jika otak tidak terisi oleh informasi2 baru maka jaringan yang ada pun akan semakin pudar, dan hilang sama sekali, inilah yang disebut pikun.
BAB IV
PERSIAPAN MENTAL PENGHAFAL AL QUR’AN

Pepatah Arab mengatakan: Apabila azam sudah bulat, jelaslah jalan menuju cita-cita
Al qur’an bersifat hirearki artinya mengajak pembacanya untuk beraktifitas. Beberapa mental yang harus ditanam dalam diri kita adalah:
1. Merasakan keagungan Al Qur’an
Yakinlah bahwa kita sedang melakukan perbuatan yang agung dan mulia. Al Ghazali mengatakan:”Seorang penghafal Al Qur’an ketika memulai membacanya sebaiknya ia menghadirkan dalam hatinya keagungan Allah. Dan menyadari bahwa apa yang dibacanya bukanlah ucapan manusia.”

Rasa pengagungan terhadap Al Qur’an sangat tergantung kepada ma’rifahnya. Makin besar ma’rifahnya makin besar pengagungan manusia kepada Rabb nya: QS 22:18
                    ••   •            •      
18. Apakah kamu tiada mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar daripada manusia? dan banyak di antara manusia yang Telah ditetapkan azab atasnya. dan barangsiapa yang dihinakan Allah Maka tidak seorangpun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang dia kehendaki.

Andaikata Al Qur’an diturunkan kepada gunung maka gunung itu akan pecah karena khusu’ dan takut kepada Allah QS 59:21 dan QS 39:23
                ••   
.
21. Kalau sekiranya kami turunkan Al-Quran Ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah. dan perumpamaan-perumpamaan itu kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir.
 •     •                              
23. Allah Telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang [1312], gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, Kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan Kitab itu dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpinpun.

[1312] maksud berulang-ulang di sini ialah hukum-hukum, pelajaran dan kisah-kisah itu diulang-ulang menyebutnya dalam Al Quran supaya lebih Kuat pengaruhnya dan lebih meresap. sebahagian ahli tafsir mengatakan bahwa maksudnya itu ialah bahwa ayat-ayat Al Quran itu diulang-ulang membacanya seperti tersebut dalam mukaddimah surat Al Faatihah.

Bahkan orang kafirpun dapat merasakan keagungan Al Qur’an ketika ia memahami isinya. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Al Walid bin Al Mughirah, bahwa orang kafir melewati Rasul yang sedang shalat, maka ia mendengarkan dengan khusu’ sehingga ia terbuai oleh keindahan Al Qur’an. Sesudah itu ia mendatangi bani Makzum dan menyatakan kekagumannya, ia mengatakan:”Demi Allah sungguh aku tadi telah mendengarkan dari Muhammad sebuah perkataan yang tidak mungkin itu perkataan manusia ataupun jin. Demi Allah sesungguhnya perkataan itu memiliki kemanisan dan keindahan, atasnya berkembang dan bawahnya subur (Al Qur’an memiliki makna yang mendalam dan luas) dan sesungguhnya Al Qur’an itu unggul dan tidak ada yang mengunggulinya.” Namun sayang kekagumannya tertutupi oleh rasa gengsi dan kesombongan, dan tidak menghantarkannya kepada Islam.

2. Memiliki ihtimam (persiapan) terhadap Al Qur’an
Indikasi suatu pekerjaan yang telah diberi ihtiham (perhatian) yaitu apabila pekerjaan itu terasa sangat perlu sekali untuk dilakukan bagaimanapun kondisinya. Hendaknya berupaya sedekat mungkin dengan Al Qur’an. Berinteraksi dengan Al Qur’an. Membaca satu hari satu zus. Mengqodo bila ada hari yang terlewat., sedang tasmi (saling menyimak), qiyamul lail (shalat malam). Umar Bin Khatab jika mengadakan perjalanan sepanjang Madinah dan Palestina membaca Al Qur’an. Umar Bin Abdul Aziz khalifah ke liama (Bagdad) membaca Al Qur’an ditengah-tengah kesibukannya sebagai pemimpin. Iman Abu Hanifah tercatat mengahatamkan 7000 kali sepanjang hidupnya. (Suar min Hayatit Tabiin jus 6 hal 143).
3. Pandai mengatur waktu
Nasihat-nasihat para ulama:”Seyogyanya bagi seorang penghafal Al Qur’an dapat diketahui pada waktu malamnya, apabila manusia sedang tidur.” (ia berjaga untuk qiyamul lail dan tilawah al Qur’an).
Sedangkan AL Fudhail bin ‘Iya mengatakan:”Penghafal Al Qur’an adalah pembawa panji Islam, tidak pantas baginya bermain-main bersama orang –orang yang suka bermain, tidak luapa diri bersama orang yang lupa diri tidak berkata yang laghwu (tidak ada nilainya) bersama orang yang suka berkata laghwu. Itu semua perlu dilakukan untuk menjaga keagungan haq Al Qur’an.”
4. Tabah menghadapi masyaqat (kesulitan) menghafal
Untuk hafal 30 zus tidak semudah yang kita bayangkan ketika melihat orang yang tahfidz qur’an ketika kita menikmati hafalannya. Dalam QS 90:4
     
4. Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.

Kalau kita mau bersabar, tekun dan berhasil hafal 30 zus maka Allah akan mengangkat derajat kita. Kita harus menyadari, orang bisa mendaki puncak himalaya, bisa melewati surabaya Jakarta demi memecahkan rekor, lalu mengapa kita berputus asa padahal kita akan memperoleh derajat yang tinggi.

BAB V
TEKNIK MENGHAFAL AL QUR’AN

1) Teknik memahami ayat-ayat yang akan dihafal
• Dipahami terjemahnya dan tafsirnya.
• Ukur kemampuan menghafal kita, tentukan jumlah
• Ketidak lancaran merupakan hal yang membuat sedih dan mempengeruhi ayat yang akan dihafal
• Cobalah berkali-kali sampai kita menghafalnya
• Coba membaca ayat dengan melihat mushaf, gunanya agar tidak terjadi kesalahan. Sampai lancar seperti air yang mengalir.
• Jika ada kesalahan atau masih lupa2, ulangi terus hingga bersih dari kesalahan.
• Kelancaran merupakan motivasi penghafal ketika sedang menyetor kepada guru.motivasi/ mematahkan semangat bagi penghafal.
• Usahakan menyetor hafalan dalam keadaan fit dan semangat.
2) Teknik mengulang-ulang sebelum dihafal
• Sebelum mulai menghafal, bacalah berulang-ulang ayat yang akan dihafal. Sebagian penghafal mengulangnya 35 kali pengulangan.
• Mulailah menghafal
• Jika suara serak, itu akibat jarang dipakainya pita suara. Jika anda gunakan berjam-jam untuk menghafal itu akan lebih baik, akan membuat fisik berkualitas dan prima.
3) Teknik mendengarkan sebelum menghafal

4) Teknik menulis sebelum menghafal
5) Teknik memakai al Qur’an pojok
6) Teknik tidak berganti-ganti al Qur’an
7) Teknik menggunakan Al Qur;an terjemah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: