wayjeparanegriku

Just another WordPress.com site

Psikologi Belajar Agama

BAB I
PENDAHULUAN

Fitrah manusia itu suci, artinya setiap manusia yang dilahirkan memiliki potensi takwa, potensi keimanan terhadap Allah. Fitrah manusia juga berfungsi untuk memahami dan menerima nilai-nilai kebenaran yang bersumber dari agama. Seperti yang telah Allah sebutkan dalam Qs. Al ‘Araf: 172:


                         •    

172. Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah aku ini Tuhanmu?” mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuban kami), Kami menjadi saksi”. (kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya Kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”,

Namun fitrah beragama ini merupakan potensi yang arah perkembangannya amat tergantung pada kondisi kehidupan beragama dalam lingkungannya, terutama lingkungan keluarga.
Setiap manusia mempunyai dua kecenderungan yaitu takwa dan fujur/ musyrik, kafir, sepereti telah dikabarkan dalam Qs. Asy Syamsu: 8-10:
             
8. Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.
9. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu,
10. Dan Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.

Dalam mengembangkan potensi setiap individu memerlukan bantuan orang lain, baik orang tua, sekolah, bimbingan agama, atau suri tauladan dari lingkungannya.
Mengembangkan potensi takwa individu sangatlah penting dalam segala bidang kehidupan. Contohnya, seorang pejabat tinggi jika tidak memiliki moral mungkin akan berbuat korupsi apabila tidak memiliki keimanan yang kuat.
Jauhnya seseorang dari agama disebut pula dengan dekadensi moral yaitu seperti terjadinya kasus-kasus yang terkait dengan larangan lima M, yaitu:
1. Madat: Narkoba dan miras
2. Madon: Berzina, portitusi, free sek, atau kumpul kebo (samen leven)
3. Maling: korupsi, mencuri, mencopet, ngompas
4. Main: Berjudi
5. Mateni: Membunuh (bunuh diri atau membunuh orang lain).
Bagi penyelenggara pendidikan disekolah, guru agama memegang peranan sangat penting. Maka mata kuliah ini “Psikologi Belajar agama (Perspektif Pendidikan Agama) penting untuk dipelajarji oleh calon guru.
Tujuan mempelajari Psikologi Belajar Agama adalah untuk meningkatkan kualitas pemahaman dan kemampuannya dalam memberikan pendidikan agama kepada para siswa, sehingga memperoleh hasil yang diharapkan. Secara rinci tujuan itu sbb:
1. Guru memahami konsop-konsep dasar psikologi belajar agama
2. Guru memahami tentang hakikat beragama dalam kaitannya dengan aspek psikis seseorang (penganutnya).
3. Guru memahami tentang pengamalan agama antara simbol ritual dan esensial.
4 Guru memahami faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan dan aktualisasi kesadaran beragama.
5 Guru memahami karakteristik perkembangan kesadaran pada setiap fase perkembangan
6 Guru memahami keterkaitan antara pendidikan akidah, ibadah, dan akhlak dengan perkembangan psikis (jiwa).
7 Penerapan Reward & Punishment dalam proses belajar agama
8 Guru memahami proses penelitian dalam pembelajaran agama
9 Guru memiliki kemampuan untuk mengimplementasikan (menerapkan) konsep-konsep yang difahaminya.

A. PENGENRTIAN PSIKOLOGI BELAJAR AGAMA

1. Psikologi, terdiri dari dua kata psyche yang berarti jiwa, dan logos yang berarti ilmu. Demikianlah pengertian menurut bahasa adalah ilmu jiwa. Sedangkan menurut istilahaa; ilmu yang mempelajarai tingkah laku incividu dalam interaksi dengan lingkungannya.
2. Belajar berarti proses perubahan tingkah laku sebagai hasil pengalaman. Atau proses usaha individu untuk memperoleh sesuatu yang baru dari keseluruhan tingkah laku sebagai hasil dari pengalamannya. Tingkah laku digolongkan:
a. kognitif: tingkah laku yang berhubungan dengan pengenalan atau pemahaman diri dan lingukannya.
b. Afektif: tingkah laku yang mengandung penghayatan suatu emosi atau perasaan tertentu.
c. Konatif: tingkah laku yang terkait dengan dorongan dari dalam dirinya untuk mencapai suatu tujuan, suatu yang diinginkan.
d. Motorik: tingkah laku yang berupa gerak gerik jasmaniah atau fisik,
3. Agama dalam bahasa berarti teratur, tidak kacau. Menurut umum yaitu, religi, religie, religion yang berarti melakuan suatu perbuatan dengan penuh penderitaan atau mati-matian. Menurut bahasa arab yaitu, “Addin” yang berarti hukum, perhitungan, kerajaan, kekuasaan, tuntutan, keputusan, dan pembalasan. Menurut Prof. Ahmad Tafsir menulis dalam bukunya Pesan Moral Ajaran Islam, bahwa agama adalah kumpulan wahyu Allah yang diturunkan melalui rasul-rasulnya, diperlukan oleh manusia sebagai pedoman hidup untuk mengatur hidupnya didunia. Psikologi belajar agama dapat diartikan sebagai “Ilmu yang mempelajari perkembangan dan aktualisasi tingkah laku beragama seseorang sebagai hasil pengalaman atau interaksi dengan lingkungannya” berikut penjelasan-penjelasan:
1. Perkembangan tingkah laku beragama: merupakan proses perubahan tingkah laku beragama secara kuantitatif (keluasan) maupun kulalitatif (kedalaman) sejak usia dini sampai usia tua atau sampai mati.
2. Aktualisasi tingkah laku beradama: diartikan sebagai perwujudan atau realita tingkah laku beragama seseorang.
3. Interaksi dengan lingkungan, yaitu hubungan interpersonal individu dengan orang-orang yang berada diliingkungannya, baik dilingkungan keluarga, sekolah, pesantren.

A. RUANG LINGKUP PSIKOLOGI BELAJAR AGAMA

1. Konsep dasar psikologi agama
2. Hakikat beragama dari segi kejiwaan.
3. Pemahaman agama antara simbol-ritual dan makna esensial
4. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan jiwa beragama atau internalisasi kesadaran beragama
5. Karakteristik kesadaran beragama pada fase balita
6. Karakteristik kesadaran beragama pada fase anak
7. Karakteristik kesadaran beragama pada fase remaja
8. Karakteristik kesadaran beragama pada fase dewasa
9. Hikmah pendidikan akidah terhadap kejiwaan
10. Hikmah pendidikan ibadah terhadap kejiwaan
11. Hikmah pendidikan akhlak terhadap kejiwaan
12. Penerapan resard dan punishment
13. Penelitian proses pembelajaran agama.

BAB II
HAKIKAT HIDUP BERAGAMA

Kaidah-kaidah (nilai-nilai) yang terkandung dalam agama selaras dengan fitrah manusia sebagai makhluk beragama (homo religius), yaitu makhluk yang memiliki naluri beragamam, rasa keagamaan dan kemampuan ungtuk memahami serta mangamalkan nilai-nilai agama tersebut.
Apabila seseorang sudah berpedoman pada agama, atau agama sebagai dasar rujukan berperilaku dan sebagai barometer/ kompasdalam mencapai tujuan hidupnya, maka dia terbebaskan dari jahilliyah, dan memperoleh pencerhan hidup, Qs Ibrahim :1
      ••           
1. Alif, laam raa. (ini adalah) kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.

Dari segi kejiwaan, agama Islam telah memberikan pencerahan terhadap pola fikir manusia secara benar tentang maka hidupnya di dunia ini. Melalui agama manusia memperolah hudan (petunjuk) siapa dirinya, tujuan, tugas hidupnya, karakteristik/ sifat-sifat dirinya, keterkaitan dengan makhluknya dengan alam semesta.

A. PEMAHAMAN JATI DIRI SEBAGAI MAKHLUK

Umat muslim beranggapan bahwa keberadaannya didunia ini bukan kemauan sendiri atau hasil dari revolusi, tidak bisa menolak atau menentang dan merekayasa, tetapi adalah makhluk ciptaan Allah yang sempurna, mulia, yang hidupnya mempunyai ketergantungan. Qs Fathir: 15, At Thin: 4, Al Israa: 70
  ••          
15. Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dialah yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.
      
4. Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya .

                  
70. Dan Sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan[862], Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.

[862] Maksudnya: Allah memudahkan bagi anak Adam pengangkutan-pengangkutan di daratan dan di lautan untuk memperoleh penghidupan.

B. PEMAHAMAN TENTANG TUJUAN HIDUP

Bagi orang yang membenci agama tujuan hidup adalah kematian (didunia ini) seperti yang diungkapkan seorang psikoanalisis yang ateis Sigmend Freud.
Agar manusia tidak sesat , maka agama memberikan petunjuk kepada manusia, tentang sebenarnya tujuan hidup manusia didunia, yaitu Mardhatillah (ridha Allah, dicintai Allah). Untuk mencapai tujuan ini yaitu dengan bertakwa, besriman, dan beramal shalih.

C. PEMAHAMAN TENTANG TUGAS DAN FUNGSI HIDUP

Orang Islam memahami tugas hidup didunia ini dengan jelas, yaitu beribadah kepada Allah, Qs. Adz-Dzariyat:56,
      
56. Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.

Manusia didunia ini adalah sebagai hamba Allah yang tugasnya mengabdi kepada Allah, dan manusia sebagai khalifah dimuka bumi, mengemban amanah suci yaitu rahmatan lil ‘alamin, atau menciptakan kemakmuran seperti diperintahkan dalam Qs. Huud: 61:
                           •    
61. Dan kepada Tsamud (kami utus) saudara mereka shaleh. Shaleh berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya[726], karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya, Sesungguhnya Tuhanku Amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya).”

[726] Maksudnya: manusia dijadikan penghuni dunia untuk menguasai dan memakmurkan dunia.

D.
E. PEMAHAMAN BAHWA HIDUP INI ADALAH UJIAN

Orang Islam memahami romantika kehidupan itu ada yang yusran (kemudahan, kebahagian) dan ‘usran (kesusahan, suasana tidak menyenangkan). Qs Al Insyirah:5
•   • 
5. Karena Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,

Dalam hasits Rasul menerangkan: “ Sungguh takjub/ bangga terhadap orang-orang beriman, karena semua urusannya itu adalah baik baginya, dan tiada hal itu terjadi pada seseorang kecuali pada diri orang beriman. Jika dia mendapat kegembiraan, dia bersyukur dan hal itu baik baginya, dan apabila dia mendapat musibah atau kemudharatan maka ia bersabar, dan hal itu baik baginya. HR. Muslim.

F. PEMAHAMAN TENTANG POTENSI RUHANIAH, DAN KIAT-KIAT PENGELOLANNYA.

Manusia memililki potensi baik dan fujur. Potensi itu harus dikembangkan salah satunya dengan pendidikan agama. Jika potensi baik nya lebah maka perilakunya tak ubahnya dengan perilaku hewan.
Agar hawa nafsu itu dapat dikendalikan (dalam arti pemenuhannya sesuai dengan ajaran agama), maka potensi takwa itu harus dikembangkan, yaitu melalui pendidikan agama seja usia dini.

F. KESADARAN MENGENDALIKAN DIRI (SELF CONTROL)

Kesadaran mengendalikan diri dari yang haram merupakan keyakinan umat muslim seperti yang telah diperintahkan Allah :”Dan bagi orang yang mampu m Qs. An Naziat:37-41
•        •     •      •    • •   
37. Adapun orang yang melampaui batas,
38. Dan lebih mengutamakan kehidupan dunia,
39. Maka Sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya).
40. Dan Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya,
41. Maka Sesungguhnya syurgalah tempat tinggal(nya).

enendalikan dirinya dari dorongan hawa nafsu maka surga lah tempat kembalinya”.

G. KOMITMEN BAGI KESEJAHTERAAN UMAT MANUSIA

Hendaknya manusia yang paling memberikan manfaat dan tidak merusak lingkungan. Qs. Al Anbiya:107, Al Qoshos: 77
     
107. Dan Tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.

                         •     
77. Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.

H. KETENANGAN BATIN

Orang yang beriman akan memiliki ketenangan batin karena percaya kepada Allah dan berzikir, yakin terhadap ayat –ayat Allah, bersikap ikhlas. Qs. Fush Shilat:30, Ar-Ra’d:28
•       •        •    

30. Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan Kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, Maka Malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu”.

            
28. (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.

BAB III
PEMAHAMAN AGAMA
ANTARA SIMBOL DAN ESENSIAL

Qs. AL Baqarah:208:
                
208. Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.

1. Dikalangan umat Islam ada yang sebatas pengakuan saja Islam KTP
2. Masih ada orang islam yang ambivalen (musrik) disertai keyakinan khurafat atau tahayul
3. Ada yang mengamalkan Islamnya secara sebagian-sebagian
4. Ada yang berfikiran sekular misalnya memisahkan kehidupan duniawi dan ukhrawi
Keadaan ini semakin diperparah dengan cukup berpengaruhnya:
1. Tayangan media televisi
2. Majalah dan Tabloid yang tidak Islami
3. Krisis kesuritauladanan dari pemimpin
4. Krisis silaturahim antara umat Islam sendiri
Umat Islam diharapkan mampu menintegrasikan antara pengamalan ibadah ritual yang dipandang sebagai bagian dari simbolik dari kesadaran beragama dengan makna esensial ibadah itu sendiri yang dimanifestasikan dalam kehidupan sehari-hari, seperti pengendalian diri, sikap sabar, amanah, jujur, sikap adil, sikap altrulis, sikap toleran dan saling menghormati, tidak menyakiti atau melecehkan orang lain.

BAB IV
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
INTERNALISASI NILAI-NILAI AGAMA

Faktor lingkungan seperti yang disebutkan dalam sebuah hadits:”Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah suci, orangtuanyalah yang menjadikan anak itu yahudi, nasrani, atau majusi”.

A. FAKTOR INTERNAL (FITRAH)

Manusia dilahirkan kedunia ini dengan memmiliki fitrah, fitrah inilah yang membedakan manusia dengan hewan, manusia primitif. Seperti telah dikabarkan dalam:
1. Qs. Al –‘Raf: 172:
                         •    
172. Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah aku ini Tuhanmu?” mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuban kami), Kami menjadi saksi”. (kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya Kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”,

3. Ar –Rum:30

         ••             ••   

30. Maka hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui[1168],

[1168] Fitrah Allah: Maksudnya ciptaan Allah. manusia diciptakan Allah mempunyai naluri beragama Yaitu agama tauhid. kalau ada manusia tidak beragama tauhid, Maka hal itu tidaklah wajar. mereka tidak beragama tauhid itu hanyalah lantara pengaruh lingkungan.

3. Asy Syamsua;8-10
             
8. Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.
9. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu,
10. Dan Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.

B. FAKTOR EKSTERNAL (LINGKUNGAN)

1. Lingkungan keluarga: Qs. At Tahrim: 6
        ••              
5. Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.

Yaitu dengan cara mendidik anak sejak dalam kandungan, berdoa, berzikir, membaca Al Qur’an, memperbanyak sodaqoh, menjauhkan makanan yang haram, memberi nama anak yang baik, mencukur rambutnya, mengaqiqahkannya, memperlakuan anak dengan baik, membina pribadi dengan akhlak, suri tauladan yang baik.
2. lingkungan sekolah , peranan sekolah yaitu mengembangkan pemahaman, pembiasaan, mengembangkan potensi secara optimal :
 Guru hendaknya menggunakan metode yang berfariasi
 Guru hendaknya mengaitkan peristiwa-peristiwa atau contoh-contoh kehidupan sehari-hari dengan pelajaran.
 Guru hendaknya menjelaskan bahwa ibadah ritual akan memberikan makna yang lebih tinggi dihadapan Allah.
 Guru hendaknnya memiliki kepribadian yang baik.
 Guru hendaknya menguasai bidang studi
 Guru hendaknya memahami ilmu-ilmu yang lain.
 Guru dan kepala sekolah memberikan uswah hasanah
 Mengintegrasikan nilai-nilai agama kepada materi-materi lain
 Sekolah hendaknya menyediakan sarana ibadah
 Sekolah hendaknnya menyediakan kegiatan ektrakurikuleh.

2. Lingkungan Masyarakat, yang dimaksud lingkungan masyarakat ini adalah interaksi sosial dan sosiokultural yang potensial berpengaruh terhadap perkembangan fitrah beragama anak (terutama remaja). Seorang anak akan terpengaruh oleh teman pergaulannya. Perilaku masyarakan yang kurang kondusif akan berpengaruh negatif pada perkembangan anak.

BAB V
PERKEMBANGAN DAN AKTUALISASI
FITRAH BERAGAMA

A. MASA BAYI (USIA 2 TAHUN)

Menurut Arnol Gessel , anak bayi sudah memiliki perasaan ketuhanan. Pada masa ini, anak sudah dapat mengucapkan satu dua patah kata. Dalam masa ini dapat dijadikan modal orang tua untuk menanamkan nilai-nilai agama.
Pada masa ini hendaknya orang tua: mengenalkan konsep atau nilai-nilai agama kepada anak melalui bahasa seperti mengenalkan lafad-lafad Allah.
Hendaknya pula orang tua memberikan contoh dalam mengamalkan ajaran agama secara baik.
Dan memberikan kasih sayang, melalui kasih sayang orang tuannya anak menaruh kepercayaan yang besar ketika orang tuannya menerangkan agama dan menyuruh anak beribadah.

B. MASA PRA SEKOLAH (USIA 3-6 TAHUN)

Menurut Jakiah Daradja, masa pra sekolah (usia Taman Kanak-kanak) merupakan masa yang paling subur untuk menanamkan rasa agama kepada anak, umur penumbuhan kebiasan-kebiasaan yang sesuai dengan ajaran agama, melalui permainan. Kesadaran beragama pada usia ini ditandai dengan ciri-ciri:
1. bersikap reserif (menerima meskipun banyak bertanya.
2. bersifat anthropormorph (dipersonifikasikan)
3. suferfisical (belum mendalam, masih dipermukaan)
4. ideosyncritic (menurut khayalan dirinya) egosentric (memandang sesuatu dari sudut dirinya).

C. MASA ANAK (USIA 6-13 TAHUN)

1. Sikap keagamaannya bersifat reseptif namun sudah disertai dengan pengerntian pemahaman dan kesadaran
2. Pandangan dan pemahaman ketuhanan diperolah secara rasional berdasarkan kaidah logika.
3. Pengahayatan secara rohaniah semakin mendalam, pelaksanaan kekgiatan ritual diterimanya sebagai keharusan moral
Pada periode sekolah dasar ini merupakan masa pembentukan nilai-nilai agama sebagai kelanjutan periode sebelumnya. Kualitas keagamaannya ditentukan oleh kualitas pendidikan yang diterimannya.
Menurut Zakiah Daradjat, mengemukakan bahwa pendidikan agama disekolah dasar merupakan dasar bagi opembinaan sikap positif terhadap agama dan pembentukan kepribadian dan akhlak terhadap anak.

D. MASA REMAJA (USIA 13-212 TAHUN)

Merupakan masa strarting point yaitu pemberlakuan hukum syar’i. artinya remaja merupakan kelompok mukalaf yaitu orang yang sudah mempunyai kewajiban untuk melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Allah.
1. Masa remaja awal (usia 13-17 tahun) mulai matangnya oragan-organ fisik, terjadinya kegoncangan emosi, kecemasan dan kekhawatiran pada diri remaja. Kegincangan ini dipengaruhi faktor internal (untuk memenuhi kebutuhan organ fisik, keinginan hidup bebas) dan faktor eksternal (perkembangan kehidupan sosial budaya, perilaku atau gaya hidup orang dewasa)
2. Masa ramaja akhir (usia 17-21 tahun), emosi sudah mulai stabil pemikiran muali matang, sudah melibatkan diri pada kegiatan keagamaan, sudah bisa membedakan agama dengan manusia sebagai penganutnya.

A. MASA DEWASA

Dari sisi biologis ditandai dengan pencapaian kematangan tubuh secara optimal dan kesiapan kematangan tubuh secara optimal dan kesiapan untuk bereproduksi / berketurunan.
Dari sisi psikologis ditandai dengan ciri-ciri kedewasaan atau kematangan, kestabilan emosi, kesadaran realitasnya, menerima kenyataan, toleran dan bersikap optimis menghadapi kehidupan.
Dasi sisi pedagosis, detandai dengan rasa tanggung jawab, berperilaku sesuai dengan norma, memiliki pekerjaan, berpartisipasi aktif dalam kehidupan bermasyarakat.
1. Masa dewasa awal (usia 20-40), merupakan puncak pretumbuhan fisik. Namun memiliki masalah-masalah seperti; kesulitan mencari kerja, susah mencari jodoh, keinginan untuk menikah namun belum mendapat pekerjaan, kesulitan yang dialami ketika menikah.
2. Masa deweasa madya (usia 40-60), tugas-tugas perkembangan yang harus dituntaskan; memantapkan pengamalan ajaran agama, mencapai tanggung jawab sosial sebagai warga negara, membantu anak yang sudah remaja, menerima dan menyesuaikan deri, mempertahankan prestasi, memantapkan perannya sebagai orang dewasa.
3. Dewasa lanjut, (usia 60…..) tugas-tugas yang harus dituntaskan; menetapkan diri dalam mengamalkan norma, menyesuaikan diri dengan kemampuan fisik dan pensiun, membentuk hubungan dengan orang sebaya, memantapkan habungan harmonis antar keluarga.
Kematangan seseorang kafah dalam beragama ditandai dengan;
1. Mengamalkan ibadah ritual
2. Memiliki kesadaran bahwa setiap perilakunya diawasi oleh Allah
3. Memiliki pemahaman dan penerimaan secara positif
4. Bersyukur kepada Allah
5. Bersabar ketika mendapat musibah
6. Menjalin dan memperkokoh ukhuwwah Islamiyah
7. Menegakkan amar ma’ruf nahyi mungkar.

BAB VI
HIKMAH PENDIDIKAN AGAMA
BAGI SUASANA PSIKOLOGIS

A. HIKMAH PENDIDIKAN AKIDAH BAGI KEJIWAAN

Tujuan memberikan pendidikan akidah kepada anak didik yaitu untuk menanamkan keimanan pada diri mereka, sehingga mereka memiliki kemitmen yang kokoh untuk mendengar dan taat mengamalkan aturan Allah.
Pendidikan akidah juga mempunyai pengaruh yang sangat dominan terhadap pembentukan kepribadian seseorang secara sehat, suasana psikologis yang positif.

1. Iman kepada Allah, QS Al ‘Araf: 172:

                         •    
172. Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah aku ini Tuhanmu?” mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuban kami), Kami menjadi saksi”. (kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya Kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”,

 Orang beriman kepada Allah akan terbebas dari belenggu hawa nafsu (perilaku instinktif, impulsif), syaitahiyyah (perilaku setan) dan bahimiyah (sifat-sifat hewan)
 Dia akan optimis dalam menggarap rahmat Allah karena telah dijanjikan
 Berkembang sikap ihsan (self control)
 Bersikap ikhlas (artinya tidak ada sifat riya ingin dipuji)
 Akan ada perasaam tenang dan nyaman

2. Iman kepada Malaikat, Qs. At Tahrim: 6:

        ••              
6. Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.

Ada yang perlu diambil hikmah dari ayat diatas:
a) Akan bersifat hati-hati, penuh pertimbangan, waspada
b) Akan bersemangat dalam beramal shalih karena apa yang dilakukannya kan dicatat oleh para malaikat.

3. Iman kepada kitab Allah, dengan AlQur’an, manusia mendapat pencerahan. Akan memahami posisi dirinya, fungsi dan tujuan hidup, dengan menelaah dan membaca Al Qur’an berarti ia telah mensudikan dirinya (tazkiyatunnafs)

4. Iman kepada Nabi, akan memperoleh pemahaman tentang figur atau model yang harus diteladani. QS Al Ahzab:31, memehami misi rahmatan lil ‘alamin QS Al Anbiya:107

5. Iman kepada hari akhir, dengan iman kepada hari akhir manusia akan memdapatkan suasana batin sbb: optimis menghadapi kehidupan, bersikap hati-hati dalam beramal, bersikap tabah tidak prustasi atau bahkan depresi.

6. Iman kepada takdir (baik dan buruk), akan bersyukur terhadap ketentuan Allah baik yang menyenangkan, atau yang tidak menyenangkan, bersabar/ tabah,

B. HIKMAH PENDIDIKAN IBADAH TERHADAP KEJIWAAN

1. hikmah syahadat: senantiasa berkomitmen dan istiqomah, keyakinan yang kokoh terhadap Islam, sikap toleran terhadap penganut agama lain.
2. hikmah shalat terhadap kejiwaan: koitmen terhadap nilai-nilai agama, konsisten, self control, kreatif, kompeten, hidup teratur, disiplin, ketentraman hati, relaksasi otot dan syaraf, terhidar dari sifat keluh kesah, gelisah dan bakhil, menyeimbangkan sikap hidupnya, memberikan sumbangsih pertolongan, mensejahterakan orang banyak.
3. hikmah zakat terhadap kejiwaan, kesadaran bahwa dalam harta kekayaan yang dimilikinya ada hak orang lain, berkembang sikap kasih sayang, dermawan,kepekaan rohaniah, berbagi, pensucian diri
4. hikmah shaum terhadap kejiwaan, merupakan trainig ruhaniyah , self control, berjuang menggendalikan hawa nafsu, berkembangnya sikap empati, minat menolong orang lain.
5. hikmah haji terhadap kejiwaan: menuntut pengorbanan jiwa, harta, waktu, tenaga, bersikap egaliter (harta dan martabat dihadapan Allah adalah sama), sikap ukuwah Islamiyah.

C. HIKMAH PENDIDIKAN AKHLAK TERHADAP KEJIWAAN

Sabda Rasul Saw. “sesungguhnya Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak”. Diharapkan anak memiliki akhlak yang terpuji karena maju mundurnya suatu bangsa tergantung akhlaqnya, “Bangsa itu hanya akan kekal, selama berakhlak. Apabila akhlaknya lenyap, maka lenyap pulalah bangsa itu”. Berakhlak mulia direflesikan atau diaktualisasikan dalam sikap dan perilaku:
 Berpenampilan bersih dan sehat
 Bertutur kata yang sopan
 Bersikap rerspek
 Meningkatkan kesejahteraan masyarakat
 Menjalin ukhuwah islamiyah
 Bersikap amanah, bertanggung jawab,
 Jujur tidak berdusta
 Memelihara ketertiban, keamanan, kebersihan, keindahan lingkungan.

BAB VII
REWARD DAN PUNISHMENT
DALAM PROSES BELAJAR AGAMA

A. PENGERTIAN

Istilah reinforcement (peneguhan atau penguatan) berasal dari Skinner, yang mengklasifikasikan:
• Peneguhan positif, yaitu suatu rangsangan yang memperkuat atau mendorong suatu respon yang berbentuk reward / ganjarah, hadiah atau imbalan.
• Peneguhan negatif, yaitu suatu rangsangan yang mendorong seseorang untuk menghindari respon tertentu yang berbentuk berupa hukuman atau pengalaman yang tidak menyenangkan.

B. REWARD DAN PUNISHMENT DALAM PROSES BELAJAR AGAMA

Reward bagi anak merupakan: respon positif, menciptakankebiasaan relatif kokoh didalam dirinya, menimbulkan perasaan senang, menimbulkan antusiasme, semakin percaya diri.
Hadiah yang diberikan tidak hanya berupa materi tetapi boleh dengan penghargaan seperti anggukan, senyum, kesempatan menampilkan dan mempresentasikan pekerjaan sendiri, meningkatkan motivasi.
Memberikan reward secara berlebihan juga tidak baik, anak akan merasa tidak ada korelasi keberhasilan dan kesuksesan dengan imbalan, tidak memahami keberhasilan itu merupakan fundamental, tidak dapat memahami bahwa fungsi yang harus dilakukan adalah belajar dengan tekun.

C. TEKNIK-TEKNIK PEMBERIAN PENGHARGAAN

 Teknik verbal: yaitu dengan memberikan penghargaan berupa motivasi, pujian,dukungan, dorongan, atau pengakuan (berupa kata dan Kalimat)
 Teknik non verbal: misalnya 1)gestur tubuh, anggukan, acungan jempol, anggukan, tepukan tangan. 2) cara mendekati: guru mendekati siswa untuk menunjukan perhatian atau kesenangannya terhadap pekerjaan atau atau penampilan siswa. 3) sentuhan, menepuk bahu, berjabat tangan, mengelus kepala. 4) kegiatan yang menyenangkan, memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan suatu kegiatan yang disenanginya. 5) simbol atau benda, seperti komentar tertulis secara positif pada buku isswa, piagam penghargaan, buku, uang. 6) penghargaan tak penuh, yaitu diberikan kepada siswa yang memberikan jawaban kurang sempurna.

BAB VIII
PENELITIAN BELAJAR AGAMA

A. PENGERTIAN PENELITIAN

Penelitian adalah upaya atau cara kerja yang sistematik untuk menjawab permasalahan atau pertanyaan dengan jalan mengumpulkan data dan merumuskan generalisasi berdasarkan data tersebut.
Penelitian belajar agama dapat diartikan sebagai proses yang sistematis untuk pengetahuan dan pemecahan masalah yang terkait dengan belajar agama melalui penelitian ilmiah.

B. MASALAH PENELITIAN BELAJAR AGAMA

Masalah-masalah yang potensial menjadi objek penelitian:
1. komponen raw input, menyangkut kepribadian anak, kesadaran beragama, minat, motif mempelajari agama
2. komponen instrumental input, karakteristik guru agama, kompetensi guru agama, kurikulum agama, sumber belajar agama
3. komkponen environmental input, fasilitas belajar, pernan orang tua. Lingkungan,
4. komkponen proces, metode pembelajarjan agama, pendekatana.
5. kokmponen output, kualitas indek prestasi belajar, kemampuan baca tulis alquran. Pemahaman tentang esensi agama

C. METODE PENELITIAN

Yaitu metode deskriptif, adalah penelitian yang memusatkan perhatiannya terhadap masalah-masalah aktual melalui proses pengumpulan, penyusunan atau mengklasifikasikan, pengolahan dan penafnsiran data. (survey : mengumpulkan data, studi kasus: memusatkan pada suatu kasus secara intensif, studi kokmparatif: memahami gambaran suatu fenomena atau gejala dari dua kelompok tertentu)

D. TEKNIK PENGUMPULAN DATA

Teknik observasi : pengumpulan data melalui pengamatan
Teknik wawancara (interview): pengumpulan data melalui komunikasi langsung
Teknik angket (kuesioner): pengumpulan data dengan tertulis yang harus dijawab oleh responden.
Teknik inventori: alat pengumpul data yang sifatnya mengukur kecenderungan karakteristik perilaku inividu

E. CONTOH HASIL PENELITIAN TENTANG AKTUALISASI KEAGAMAAN

Rumke menjelaskan bahwa pemahaman agama anak baru berkembang secara leluasa pada masa pubertas (remaja)
Waterink mengemukakan bahwa anak umur 6 tahun , anak kmemandang Tuhan sebagai tokoh yang penuh rasa kasing sayang.
Cassimir mengatakan bahwa anak usia 12-14 tahun telah terbentuk dalam pribadinya perasaan beragama, akan tetapi yang sebenarnya perasaan beragama baru tercapai setelah 50 tahun.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: